Akurat Logo

5 Modus Penipuan Digital yang Marak di Media Sosial, Waspada Sebelum Jadi Korban!

Putri Chandra | 8 Oktober 2026, 13:43 WIB
5 Modus Penipuan Digital yang Marak di Media Sosial, Waspada Sebelum Jadi Korban!
Ilustrasi, Modus Penipuan Digital yang Marak di Media Sosial - Gemini

AKURAT.CO Kenali modus penipuan digital di Media sosial yang tidak hanya menjadi tempat berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menjalankan berbagai modus penipuan digital.

Tawaran pekerjaan, investasi, belanja murah, hingga pesan yang mengatasnamakan pihak resmi dapat digunakan untuk mengelabui korban.

Agar tidak mudah tertipu, penting untuk mengenali pola penipuan yang sering muncul di media sosial.

Berikut lima modus penipuan digital yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Cara Live Streaming di KICK untuk Pemula, Bisa Tanpa OBS!


5 Modus Penipuan Digital

1. Penipuan Berkedok Lowongan Kerja

Pelaku menawarkan pekerjaan melalui TikTok, Instagram, Facebook, Threads, atau platform lainnya dengan iming-iming gaji besar, pekerjaan mudah, dan proses cepat.

Setelah korban tertarik, mereka biasanya diminta membayar biaya administrasi, pendaftaran, pelatihan, atau deposit.

Kasus seperti ini masih ditemukan di Indonesia. Polda Jawa Barat pada Juni 2026 mengungkap jaringan yang menawarkan lowongan kerja palsu dan skema tugas berbayar melalui media sosial.

2. Modus Tugas Like, Follow, dan Review

Modus ini biasanya diawali dengan pesan yang menawarkan pekerjaan sampingan. Korban diminta melakukan tugas sederhana seperti like, follow, menonton video, atau memberikan ulasan dengan iming-iming komisi.

Awalnya korban mungkin benar-benar mendapatkan sejumlah uang agar percaya. Namun, setelah itu pelaku meminta korban melakukan deposit lebih besar dengan alasan untuk membuka tugas berikutnya atau mencairkan keuntungan.

Baca Juga: Kemenperin Bidik 4,43 Juta IKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Global

3. Impersonation atau Menyamar sebagai Pihak Resmi

Pelaku menggunakan nama, foto, logo, atau identitas pihak yang dipercaya, seperti bank, perusahaan, pejabat, marketplace, maupun lembaga pemerintah.

Polri juga memperingatkan modus impostor content, termasuk penggunaan AI untuk memanipulasi wajah dan suara seseorang.

Konten tersebut kemudian dapat digunakan untuk meyakinkan korban agar memberikan data pribadi, membuka tautan, atau mengirimkan uang.

4. Penipuan Investasi di Media Sosial

Pelaku menawarkan investasi dengan janji keuntungan tinggi, cepat, bahkan disebut tanpa risiko. Promosi biasanya disebarkan melalui media sosial, grup percakapan, atau pesan pribadi.

OJK dan Satgas PASTI masih menemukan berbagai penawaran investasi ilegal. Salah satu pola yang perlu diwaspadai adalah penggunaan nama atau identitas perusahaan yang sebenarnya legal untuk membuat penawaran palsu terlihat meyakinkan.

5. Penipuan Belanja Online

Pelaku menawarkan barang dengan harga sangat murah melalui akun media sosial, marketplace palsu, atau tautan tertentu. Setelah korban melakukan pembayaran, barang tidak dikirim atau korban justru diarahkan ke situs palsu.

Data IASC hingga Agustus 2026 menunjukkan penipuan transaksi belanja termasuk modus yang paling banyak dilaporkan, dengan 119.494 laporan.


FAQ

1. Apa saja modus penipuan digital yang sering muncul di media sosial?

Beberapa modus yang perlu diwaspadai antara lain lowongan kerja palsu, tugas like dan follow berbayar, penyamaran sebagai pihak resmi, investasi ilegal, serta penipuan belanja online.

2. Bagaimana ciri-ciri lowongan kerja palsu?

Lowongan kerja palsu biasanya menawarkan gaji besar dengan pekerjaan yang mudah, proses perekrutan terlalu cepat, atau meminta calon pekerja membayar biaya tertentu sebelum bekerja.

3. Apakah tawaran pekerjaan dengan tugas like dan follow bisa menjadi penipuan?

Bisa. Salah satu pola yang perlu diwaspadai adalah ketika pelaku awalnya memberikan komisi kecil, kemudian meminta korban melakukan deposit atau transfer uang dalam jumlah lebih besar.

4. Apa itu impersonation dalam penipuan digital?

Impersonation adalah modus ketika pelaku berpura-pura menjadi orang, perusahaan, bank, marketplace, atau lembaga resmi untuk mendapatkan kepercayaan korban.

5. Bagaimana cara menghindari penipuan investasi di media sosial?

Jangan mudah percaya pada investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi tanpa risiko. Periksa legalitas perusahaan dan penawaran melalui kanal resmi sebelum mengirimkan uang.


Kesimpulan

Modus penipuan digital terus berkembang dan dapat muncul dalam berbagai bentuk di media sosial.

Pelaku bisa menawarkan pekerjaan dengan iming-iming penghasilan besar, memberikan tugas sederhana dengan komisi, menyamar sebagai pihak resmi, menawarkan investasi berisiko, hingga menjual barang dengan harga yang tidak wajar.

Karena itu, pengguna media sosial perlu lebih berhati-hati sebelum memberikan data pribadi, mengklik tautan, atau melakukan transfer uang.

Jangan mudah tergiur dengan keuntungan besar atau tawaran yang mendesak. Selalu lakukan verifikasi melalui sumber resmi sebelum mengambil keputusan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.