Akurat Logo

Gairah Pembatik Muda di Pekalongan, Berdikari dari Goresan Malam

Moehamad Dheny Permana | 16 Juli 2026, 10:09 WIB
Gairah Pembatik Muda di Pekalongan, Berdikari dari Goresan Malam
Muhammad Furqan melakukan panembokan pada kain katun di Rumah Batik TBIG, Pekalongan. Foto: Akurat.co/Moehamad Dheny Permana

AKURAT.CO Bau khas malam yang dipanaskan menguar lembut dari sebuah wajan kecil di salah satu ruangan produksi Rumah Batik TBIG yang terletak di wilayah Wiradesa, Pekalongan, Jawa Tengah.

Di sana, Muhammad Furqan (25) sibuk melakukan panembokan pada selembar kain katun berukuran 1x2,5 meter yang terbentang di atas sebilah kayu.

Tangannya yang kokoh menggenggam canting dengan presisi. Kain setengah jadi itu layaknya kanvas kehidupan yang sedang ia lukis dengan penuh kesabaran.

Furqan adalah salah satu pemuda Pekalongan yang saat ini menekuni profesi sebagai pembatik. Ia sempat menempuh kuliah di jurusan Hukum Ekonomi Syariah di salah satu universitas di Pekalongan, meski tidak sampai selesai.

Di Rumah Batik TBIG, Furqan tidak seorang diri. Ia ditemani oleh dua karibnya, Dzaky Hammam Arofi dan Muchammad Iqbal Musyafak, yang kini juga fokus menekuni profesi yang sama.

Tempat ini menjadi ruang semai bakat yang mempertemukan ketiganya. Program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) tersebut akhirnya menjadi pijakan awal bagi mereka untuk merintis karier.

Menjemput Pasar di Era Digital

Bagi generasi yang besar di tengah riuhnya internet, menjadi pembatik sering kali dianggap sebagai pekerjaan masa lalu yang usang dan berdebu.

Namun, di mata tiga pemuda Pekalongan ini, kesunyian peminat dari generasi muda justru menjadi sebuah takdir yang menantang untuk ditaklukkan.

Iqbal, salah satu pembatik muda yang juga lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Kriya Seni, mengaku belajar banyak hal di Rumah Batik TBIG.

Di sana, mereka tidak hanya mengasah keterampilan membatik, tetapi juga belajar menganalisis dan menggambar motif batik sesuai kebutuhan pasar.

"Jadi, kita juga perlu belajar cari pasar, cari market. Tinggal gimana cara kita mau memposisikan diri," tutur Iqbal, saat ditemui Akurat.co.

Sebagai tiga pemuda lulusan Rumah Batik TBIG yang memiliki kemampuan unggul, mereka telah melewati fase inkubasi dan berhasil mendapatkan bantuan permodalan dari Koperasi Bangun Bersama.

Berbekal modal dan ilmu tersebut, mereka memutuskan untuk berkolaborasi mendirikan sebuah UMKM Batik.

Bagi Iqbal dan kawan-kawannya, menyelamatkan batik tidak lagi sekadar tentang meniup canting agar malam tetap cair. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengemas sepotong kain menjadi sebuah narasi yang hidup di layar ponsel pintar generasi Z.

Mereka bertekad membawa batik keluar dari lemari tua melalui kekuatan cerita dan kreativitas.

"Kita bikin edukasi tentang batik, storytelling tentang batik, membatik, terutama pembatik Gen Z. Zaman sekarang kan udah sangat jarang pembatik-pembatik itu diminati anak-anak muda, nah kita coba bangkitin lagi era-era batik," jelasnya.

Melalui akun-akun media sosial yang dikelola secara mandiri, di samping jejaring yang diulurkan oleh Rumah Batik TBIG dan Koperasi Bangun Bersama, lembar demi lembar kain batik mereka sukses menemui takdir baru. Kerumitan proses pembuatan yang selama ini ditakuti anak muda, justru diubah oleh Iqbal, Dzaky, dan Furqan menjadi sebuah kemewahan identitas.

"Jangan jadiin alasan susah bikin batik. Justru itu peluang besar buat kita para anak muda yang memang saingannya itu justru orang-orang dulu," kata Iqbal.

Berdikari dari Goresan Malam

Sementara itu bagi Dzaky, batik bukan sekadar benteng pertahanan budaya yang abstrak, melainkan sebuah realitas yang memberinya napas kehidupan.

Di tengah rimba pencarian kerja pascakuliah yang kian curam dan membingungkan, selembar kain putih dan malam telah menjadi ruang baginya untuk mandiri secara finansial.

Dzaky merupakan lulusan Universitas Negeri Semarang Tahun 2023 jurusan Pendidikan Fisika. Ia merasakan betul manfaat besar yang didapat dari pendidikan di Rumah Batik TBIG sejak masih duduk di bangku SMK tahun 2017.

“Ini bisa jadi salah satu harapan saya buat jadi tempat saya menghidupi saya sendiri. Sangat bermanfaat sekali. Saya bisa mengembangkan diri untuk membikin bisnis batik," urai Dzaky.

Kini, UMKM Batik yang dirintis oleh ketiga pemuda tersebut telah memiliki sekitar 40 orang pekerja freelance, yang terdiri dari 10 orang pembatik, 10 orang di bagian pewarnaan, dan 20 orang di bagian panembokan.

Walau usaha yang mereka jalankan ini masih berada di tapak awal dan keuntungannya belum setebal bukit, roda produksi tidak pernah berhenti berputar. Dari kain-kain yang terjual, asa itu terus menyala.

"Alhamdulillah tertutup untuk sehari-hari. Ada (untuk ditabung) tapi mungkin karena masih merintis jadi belum banyak," ujar Dzaky.

Kolaborasi dan Skema Permodalan

Di sisi lain, Furqan menjelaskan skema kerja sama yang mereka jalin dengan Koperasi Bangun Bersama. Bantuan permodalan yang diberikan berkisar Rp5 juta per orang untuk memproduksi sekitar 10 lembar kain batik.

Nantinya, batik-batik yang dihasilkan lewat permodalan tersebut akan langsung diserap oleh Koperasi Bangun Bersama dengan harga jual yang bervariasi dan lebih tinggi.

"Jadi langsung beli putus," kata Furqan.

Melalui skema permodalan tersebut, Furqan, Dzaky, dan Iqbal masing-masing bisa menghasilkan Rp10-20 juta per bulan. Besaran tersebut memang masih pendapatan kotor karena harus dibagi lagi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan batik.

Namun, para pemuda ini tidak hanya mengandalkan proyek dari Koperasi Bangun Bersama. Mereka juga aktif mengerjakan proyek-proyek lain, termasuk dari hasil pesanan yang masuk melalui media sosial.

Melalui kolaborasi dan sinergitas ini, Furqan, Dzaky, dan Iqbal memberikan kesan kuat bahwa batik adalah warisan masa lalu yang punya masa depan cerah di tangan anak muda. Sekaligus pembuktian bahwa budaya tradisi mampu menjadi jalan kemandirian ekonomi yang menjanjikan di era modern.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.