Anak Muda Didorong Lawan Budaya Konsumsi Berlebih, FOMO Jadi Biang Krisis Iklim

AKURAT.CO Budaya overconsumption atau konsumsi berlebih dinilai turut memperparah krisis iklim yang kian terasa.
Fenomena ini salah satunya dipicu tren Fear of Missing Out (FOMO) yang berkembang melalui media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Yayasan Partisipasi Muda (YPM) berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menggelar seminar dan workshop bertema “From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi” di Kampus UI.
Dalam seminar tersebut, berbagai pembicara dari latar belakang berbeda membahas pentingnya peran anak muda dalam menghadapi krisis iklim.
Akademisi FISIP UI, Muhammad Imam, menilai fenomena konsumsi berlebih dapat ditekan melalui kebijakan yang tegas. Ia mendorong generasi muda untuk aktif terlibat dalam proses pengambilan kebijakan.
“Anak muda perlu terlibat, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Dari sisi pemerintah, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Adam Faza Gimnastiar, menjelaskan adanya pergeseran pendekatan pengelolaan lingkungan dari end of pipe menuju pendekatan preventif berbasis Sustainable Consumption and Production (SCP).
Baca Juga: Persib Imbang Tanpa Gol di Bandung, Bojan Hodak Puji Kiper Arema
“Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif dunia usaha, Ariq Gilang Narendra menekankan bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai secara parsial. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci.
“Penting menerapkan SCP di seluruh rantai nilai bisnis,” tegasnya.
Merangkum berbagai pandangan tersebut, Co-Founder dan Direktur Eksekutif YPM, Neildeva Despendya, menyoroti dampak krisis iklim terhadap generasi muda, termasuk meningkatnya risiko eco-anxiety.
Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata anak muda yang perlu dijembatani melalui partisipasi yang bermakna.
“Masih ada gap antara kebijakan dan kebutuhan generasi muda yang perlu dijembatani,” ujarnya.
Sebagai informasi, kegiatan ini melibatkan 95 peserta berusia 16–24 tahun dari berbagai wilayah Jabodetabek pada 18 April 2026. Peserta terdiri dari pelajar hingga mahasiswa.
Setelah sesi seminar, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun policy brief.
Setiap kelompok mensimulasikan proses negosiasi antar aktor kebijakan dan menghasilkan rekomendasi konkret terkait konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Hasil policy brief tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata generasi muda dalam mendorong kebijakan lingkungan yang lebih progresif dan responsif terhadap tantangan zaman.
Baca Juga: Perempuan Kuasai 64,5 Persen UMKM, Bank Saqu Dorong Literasi Finansial
Melalui program ini, YPM menegaskan komitmennya untuk melawan budaya konsumsi berlebih sekaligus membangun kesadaran bahwa konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga tindakan yang berdampak langsung terhadap masa depan lingkungan dan pembangunan bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








