Resital Kelas Akting Titimangsa 2025, Lakon Klasik Dunia, Rayakan Regenerasi Seni Peran

AKURAT.CO, Yayasan Titimangsa kembali menggelar Resital Kelas Akting Titimangsa 2025 sebagai penutup program pelatihan akting reguler yang telah berjalan sejak 2018.
Resital angkatan keenam ini berlangsung pada Minggu, 23 November 2025 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), menampilkan empat lakon klasik dunia dalam satu rangkaian pertunjukan.
Acara ini merupakan hasil dari proses pelatihan selama tiga bulan yang dipimpin Iswadi Pratama, sastrawan dan pendiri Teater Satu Lampung.
Sebanyak 25 peserta menjalani pembelajaran intensif menggunakan Mixed Methods Acting, metode yang memadukan pendekatan dari Strasberg, Adler, Meisner, dan Stanislavski dengan prinsip meditasi, yoga, hingga seni bela diri. Metode tersebut dirancang untuk membantu aktor membangun kehidupan batin dan lahir karakter secara otentik.
Peserta tahun ini memiliki rentang usia sangat beragam, mulai dari 15 hingga 58 tahun, disertai latar belakang pengalaman yang berbeda-beda.
Ada yang telah berulang kali mengikuti kelas, memiliki jam terbang pentas, hingga pemula yang baru memulai perjalanan seni peran.
Baca Juga: Kolaborasi Mola TV - Titimangsa Foundation Hadirkan Teater Musikal ‘Anugerah Terindah’
Variasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar dalam menyusun materi pembelajaran yang inklusif dan tetap menantang bagi peserta berpengalaman.
Iswadi Pratama menekankan pentingnya keberlanjutan proses belajar setelah kelas berakhir. Dia mendorong peserta untuk bergabung dengan kelompok teater di Jakarta atau membentuk komunitas baru demi memperkaya ekosistem pertunjukan. "Mereka sebenarnya punya kesiapan untuk ditampung oleh kelompok-kelompok teater. Kehadiran mereka menambah sumber daya manusia di bidang keaktoran,” ujar Iswadi.
Menurutnya, bertambahnya pelaku teater juga berdampak pada pertumbuhan jumlah penonton teater dan film.
Tahun ini, resital memiliki makna khusus karena menjadi bagian dari perayaan 20 tahun perjalanan Reza Rahadian di dunia seni peran.
Dalam semangat regenerasi, Reza bersama Titimangsa memberikan beasiswa penuh kepada sejumlah peserta terpilih.
Mereka turut tampil dalam empat produksi bersama peserta reguler lainnya, menegaskan komitmen Titimangsa dalam membuka akses lebih luas bagi talenta baru.
Empat lakon yang dipentaskan seluruhnya bernapaskan absurdisme dengan karakteristik berbeda, tiga di antaranya ber-genre komedi:
1. Pesta para Penipu (Le Bal des Voleurs) – Jean Anouilh, saduran Rachman Sabur
2. Pinangan (The Proposal) – Anton P. Chekhov, saduran Jim Lim & Suyatna Anirun
3. Pencuri Berbudi Luhur (The Virtuous Burglar) – Dario Fo, terjemahan Dian Ardiansyah
4. Pemberontak (Les Justes) – Albert Camus, terjemahan Iswadi Pratama
Direktur Titimangsa, Pradetya Novitri, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan akting, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi seorang seniman. Tahun ini, penyelenggaraan kelas menjadi lebih istimewa karena dilaksanakan oleh para alumni Titimangsa yang dengan sukarela meluangkan waktu mendampingi peserta baru. “Mereka telah merancang dan menjalankan program dengan sangat baik. Saya juga berterima kasih kepada semua peserta yang telah mempercayai Titimangsa sebagai rumah untuk bertumbuh,” ujar Pradetya.
Baca Juga: Kolaborasi Mola TV - Titimangsa Foundation Hadirkan Teater Musikal ‘Anugerah Terindah’
Aktris Happy Salma yang juga sebagai founder dan juga direktur di Yayasan Titimangsa mengungkapkan bahwa hadirnya program dan kelas akting di Titimangsa menjadi suatu hal yang berkualitas untuk memberikan sebuah karya. "Ruang ini tuh, kayak Kelas Akting Titimangsa, terus juga ruang-ruang teater itu tuh satu; adalah sebagai ruang diskusi. Kita kan sekarang punya banyak sekali kelompok-kelompok teater melakukan musikal atau pop culture lain, itu bagus banget," ucapnya. "Titimangsa itu kita selalu seimbang untuk selalu mengedepankan karya-karya yang kita pikir sangat berkualitas. Bukan hanya karya sastra, tapi karya-karya dunia. Seperti yang tadi, Pesta Para Penipu, karya dari Prancis, ada juga karya dari Jerman yang kita adaptasikan ke dalam teks ke-Indonesia-an, gitu," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 7Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 8Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 9KPK Pantau Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
- 10Kunjungi Pindad, Ketua MPR Dorong Penguatan Industri Pertahanan Nasional








