Ressa Rizky Nilai Denada Lebih Tepat Disebut “Membuang Anak” Bukan Penelantaran

AKURAT.CO Kuasa hukum Ressa Rizky, pria yang mengklaim sebagai anak kandung Denada, melontarkan pernyataan keras terkait gugatan yang tengah bergulir.
Ronald Armada menilai istilah penelantaran anak terlalu lunak untuk menggambarkan kondisi yang dialami kliennya.
Baca Juga: Mediasi Gagal Total dengan Denada, Pihak Ressa Rizky Bongkar Semua Fakta
Menurut Ronald, substansi perkara yang diajukan justru lebih tepat dikategorikan sebagai tindakan “membuang anak.”
"Yang paling pantas itu sebetulnya konsepnya: Membuang Anak," ujar Ronald Armada melalui sambungan video, Kamis (22/1/2026).
Dia kemudian menguraikan perbedaan mendasar antara penelantaran dan membuang anak.
Dalam pandangannya, penelantaran masih menyiratkan adanya pengakuan orang tua terhadap anaknya.
"Karena kalau penelantaran anak itu orang tuanya masih mengakui bahwa dia orang tuanya. Ini membuang anak," jelasnya.
Pernyataan tersebut secara implisit menuding bahwa Denada sejak awal tidak pernah mengakui Ressa Rizky sebagai anaknya.
Bagi pihak Ressa, kondisi ini dinilai jauh lebih menyakitkan dibanding sekadar tidak memberikan nafkah atau perhatian.
Ronald menegaskan, penggunaan istilah “membuang anak” bukan tanpa alasan. Dia ingin publik memperoleh gambaran yang menurutnya lebih sesuai dengan fakta yang diklaim kliennya, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk menilai sendiri persoalan ini.
"Kalau Social Justice, itu kewenangan pure dari publik untuk melakukan penilaian. Bagaimana sebetulnya jati diri dari 'Ibu Peri' ini," katanya, sembari menyindir citra Denada di mata publik.
Pilihan kata yang tegas ini, lanjut Ronald, mencerminkan luka mendalam dan rasa kekecewaan yang dirasakan Ressa Rizky. Pihaknya merasa keberadaan kliennya seolah dihapus dan tidak pernah diakui.
Baca Juga: 10 Tahun Sendiri, Denada Siap Buka Hati dan Menikah Lagi
Saat ditanya apakah tindakan “membuang anak” layak mendapatkan hukuman yang lebih berat, Ronald tidak memberikan jawaban pasti. Dia memilih menyerahkan penilaian tersebut kepada masyarakat dan media.
"Ah, itu kawan-kawan saja yang menilai itu," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








