Akurat Logo

Guru di Era AI Tak Sekadar Beri Ilmu, Tapi Bentuk Cara Berpikir dan Karakter

Esha Tri Wahyuni | 28 September 2026, 18:30 WIB
Guru di Era AI Tak Sekadar Beri Ilmu, Tapi Bentuk Cara Berpikir dan Karakter
Salman Subakat bersama Menteri Pendidikan Abdul Muti

AKURAT.CO Peran guru dinilai tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan kepada murid. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin mampu menyediakan informasi, pendidik justru memiliki peran penting dalam membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang peserta didik.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dalam acara Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) yang digelar ParagonCorp di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026).

Mu'ti mengatakan, perubahan pendidikan harus dimulai dari ruang kelas. Menurut dia, terdapat tiga hal yang menjadi kunci bagi seorang guru, yakni mencintai murid dan ilmu, mendidik dengan menginspirasi, serta memuliakan murid dalam proses pembelajaran. "Menginspirasi itu tidak harus selalu khotbah. Cerita kehidupan juga mudah-mudahan bisa menginspirasi," ujar Mu'ti, Sabtu (26/9/2026).

Baca Juga: Tak Lagi Mau Program Bayi Tabung Usai Keguguran, Sinyorita Esperanza: Pasrah Sama Allah Saja

Dirinya menjelaskan, menjadi guru harus dilandasi kecintaan terhadap murid sekaligus ilmu pengetahuan. Baginya, mengajar merupakan misi yang tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga membantu murid mengubah ketidaktahuan menjadi pemahaman.

"Setiap murid adalah utusan Tuhan yang membukakan pintu-pintu surga bagi gurunya. Karena itu, jadilah guru yang sabar dengan segala kesulitan dan terus membuka jalan bagi mereka yang ingin menjadi lebih baik," kata Mu'ti.

Kunci kedua, lanjut Mu'ti, adalah menjadikan proses pendidikan sebagai upaya untuk menginspirasi. Guru tidak hanya dituntut untuk berbicara dan meminta murid mendengarkan, tetapi juga harus mampu menjadi pendengar dan memberikan keteladanan. "Guru tidak selalu harus minta didengar. Guru juga harus menjadi pendengar yang sabar dan memberi keteladanan. Teaching is inspiring," tuturnya.

Mu'ti kemudian menceritakan perjalanan hidupnya sebagai contoh. Ia berasal dari desa di Kudus dan merupakan lulusan Madrasah Aliyah jurusan IPA. Saat itu, ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat melanjutkan pendidikan hingga kuliah di IAIN dan kemudian dipercaya memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. "Saya kuliah di IAIN itu karena berbakti pada guru saya dan karena doa orang tua saya," ujarnya.

Menurut Mu'ti, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan proses panjang. Dampak investasi pendidikan tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat karena hasilnya dapat baru terlihat setelah bertahun-tahun. "Investasi di bidang pendidikan itu hasilnya butuh puluhan tahun untuk benar-benar terlihat," katanya.

Kunci ketiga adalah pendidikan yang memuliakan murid, guru, dan ilmu. Konsep tersebut salah satunya diwujudkan melalui pembelajaran mendalam atau deep learning, dengan menempatkan murid sebagai rekan belajar dan guru juga terus belajar selama proses pembelajaran berlangsung.

Pembelajaran tersebut, kata Mu'ti, dirancang agar berlangsung secara mindful, meaningful, dan joyful. Dengan pendekatan tersebut, ruang kelas tidak hanya menjadi tempat penyampaian materi, tetapi juga ruang bagi murid untuk berkembang. "Seperti Tembok Besar Cina, tersusun batu demi batu secara konsisten. Mulailah dari kebiasaan kecil, dan jangan takut gagal," kata Mu'ti.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.