Toko MR.D.I.Y. Tembus 1.400 Gerai, Ekspansi Makin Agresif Menjangkau Daerah Tier 3

AKURAT.CO Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar, menemukan toko perlengkapan rumah tangga mungkin bukan persoalan sulit. Pilihan ritel tersedia di pusat perbelanjaan, kawasan komersial, hingga dekat permukiman. Situasinya berbeda bagi konsumen di kota kecil dan kabupaten yang akses terhadap jaringan ritel modern masih relatif terbatas. Di tengah kondisi tersebut, MR.D.I.Y. 1.400 toko menjadi penanda menarik bahwa ekspansi ritel modern di Indonesia kini semakin agresif menjangkau wilayah yang lebih luas, termasuk daerah tier 3.
PT Daya Intiguna Yasa Tbk atau MR.D.I.Y. Indonesia resmi membuka toko ke-1.400 menjelang peringatan Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada 4 September. Pencapaian tersebut bukan hanya menambah angka dalam jaringan gerai perusahaan, tetapi juga menunjukkan arah pertumbuhan bisnis ritel yang semakin bergeser dari kota-kota besar menuju kota dan kabupaten dengan potensi pasar baru.
Hingga Agustus 2026, MR.D.I.Y. Indonesia telah membuka 177 toko baru. Perseroan menargetkan pembukaan sedikitnya 270 toko baru sepanjang tahun ini. Jaringannya kini telah menjangkau 445 dari total 514 kota dan kabupaten di Indonesia serta hadir di 37 dari 38 provinsi.
Ekspansi tersebut bahkan telah menjangkau wilayah tier 3 seperti Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Buton Tengah.
Pencapaian MR.D.I.Y. 1.400 toko menunjukkan bahwa ekspansi perusahaan masih berjalan agresif meskipun jaringan gerainya sudah tersebar luas di Indonesia.
Beberapa poin penting dari pencapaian tersebut antara lain:
MR.D.I.Y. Indonesia telah memiliki 1.400 toko.
Sebanyak 177 toko baru dibuka hingga Agustus 2026.
Target pembukaan toko baru pada 2026 mencapai minimal 270 gerai.
Jaringan telah menjangkau 445 dari 514 kota dan kabupaten.
MR.D.I.Y. hadir di 37 dari 38 provinsi.
Ekspansi mulai menjangkau daerah tier 3.
Sebanyak 27 toko yang dibuka sepanjang Juli–Agustus 2026 berada di luar Pulau Jawa.
Sekitar 80% jaringan merupakan toko mandiri atau standalone stores.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa ruang pertumbuhan MR.D.I.Y. tidak lagi hanya bergantung pada penetrasi pasar di kota metropolitan. Perusahaan semakin memperluas jangkauan menuju wilayah yang sebelumnya belum banyak disentuh jaringan ritel nasional.
Mengapa MR.D.I.Y. Terus Agresif Membuka Toko?
Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia Edwin Cheah mengatakan kebutuhan pelanggan menjadi salah satu dasar perusahaan dalam menjalankan strategi pertumbuhan.
“Sebagai Perseroan yang mengutamakan pendekatan customer-centric, kami menjadikan kebutuhan pelanggan sebagai kompas dalam menjalankan strategi pertumbuhan. Hari Pelanggan Nasional menjadi momentum yang tepat untuk terus membuktikan bahwa pelanggan senantiasa menjadi pusat dari setiap langkah pertumbuhan MR.D.I.Y. Indonesia,” ujar Edwin melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 3 September 2026.
Berdasarkan keterangan resmi Perseroan, ekspansi jaringan tidak hanya dilakukan untuk memperbesar jumlah toko. MR.D.I.Y. ingin memperluas akses pelanggan terhadap produk kebutuhan sehari-hari dengan menghadirkan toko yang lebih dekat dengan tempat tinggal konsumen.
Strategi tersebut terlihat dari cakupan jaringan yang kini telah mencapai 445 kota dan kabupaten. Jika dibandingkan dengan total 514 kota dan kabupaten di Indonesia, jangkauan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan telah hadir di sebagian besar wilayah administratif tingkat dua.
Namun, angka itu juga memberikan satu pembacaan menarik: masih terdapat ruang untuk memperluas penetrasi pasar.
Dengan target minimal 270 toko baru sepanjang 2026 dan 177 toko yang telah dibuka hingga Agustus, ekspansi MR.D.I.Y. belum berhenti setelah mencapai toko ke-1.400. Artinya, pencapaian tersebut lebih tepat dilihat sebagai salah satu tonggak pertumbuhan daripada garis akhir ekspansi.
Beberapa toko baru bahkan disebut mencatatkan penjualan jauh di atas target awal pada bulan pertama operasional. Meski data penjualan rinci tidak disebutkan, kondisi tersebut mengindikasikan adanya permintaan yang cukup kuat di sejumlah wilayah baru.
Mengapa Daerah Tier 3 Menjadi Ruang Pertumbuhan Baru Ritel Modern?
Salah satu bagian paling menarik dari ekspansi MR.D.I.Y. adalah keberaniannya menjangkau wilayah tier 3, termasuk Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Buton Tengah.
Selama bertahun-tahun, ekspansi jaringan ritel nasional cenderung identik dengan kota besar. Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan kota metropolitan lain menjadi pusat pertumbuhan karena jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, serta daya beli yang besar.
Namun, persaingan di kota besar juga semakin padat.
Di sisi lain, kota kecil dan kabupaten masih memiliki kebutuhan konsumen yang terus berkembang. Masyarakat tetap membutuhkan perlengkapan rumah tangga, alat sekolah, perkakas, produk hobi, hingga berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Di sinilah muncul peluang baru bagi jaringan ritel modern.
Pencapaian MR.D.I.Y. Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ritel tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membuka gerai di pusat kota metropolitan. Kemampuan memahami pasar lokal dan membawa pilihan produk ke wilayah yang belum banyak dijangkau dapat menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan berikutnya.
Sepanjang Juli dan Agustus 2026 saja, sebanyak 27 toko MR.D.I.Y. yang dibuka berada di luar Pulau Jawa. Data tersebut penting karena memperlihatkan bahwa ekspansi tidak hanya menumpuk di pusat ekonomi terbesar Indonesia.
Perluasan jaringan ke luar Jawa juga berpotensi memperkuat akses konsumen terhadap pilihan produk yang sebelumnya mungkin hanya tersedia di kota yang lebih besar.
80% Toko Standalone, Apa Strategi di Balik Model Ini?
Fakta lain yang menarik adalah sekitar 80% jaringan MR.D.I.Y. Indonesia merupakan standalone stores. Sisanya berada di pusat perbelanjaan atau mall-based stores.
Komposisi tersebut memberikan gambaran mengenai pendekatan ekspansi perusahaan.
Toko yang berdiri sendiri memungkinkan jaringan ritel memiliki fleksibilitas lokasi lebih besar dibanding hanya mengandalkan pusat perbelanjaan. Strategi ini menjadi semakin relevan ketika perusahaan ingin menjangkau kota kecil atau daerah yang belum memiliki banyak mal besar.
Di banyak wilayah, pusat aktivitas masyarakat tidak selalu berada di dalam pusat perbelanjaan modern. Kawasan permukiman, jalan utama kota, hingga pusat perdagangan lokal dapat menjadi lokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Tentu, struktur 80% toko mandiri tersebut tidak otomatis membuktikan seluruh alasan strategi perusahaan. Namun, secara bisnis, komposisi tersebut mengindikasikan bahwa ekspansi MR.D.I.Y. tidak sepenuhnya bergantung pada perkembangan pusat perbelanjaan.
Kedekatan lokasi dapat menjadi faktor penting ketika produk yang dijual berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Baca Juga: Daya Beli Masih Tertekan, Laba MR.D.I.Y. Indonesia Justru Naik 16,4 Persen karena Faktor Ini
Paradoks Ritel di Era Digital: Mengapa Toko Fisik Masih Bertambah?
Ekspansi hingga 1.400 toko juga menghadirkan satu pertanyaan menarik. Ketika e-commerce terus berkembang, mengapa jaringan toko fisik justru masih bertambah?
Jawabannya dapat dilihat dari karakter produk yang dijual.
Tidak semua keputusan belanja cocok dilakukan secara eksklusif melalui kanal digital. Untuk sejumlah produk kebutuhan rumah tangga, konsumen mungkin ingin melihat ukuran barang secara langsung, membandingkan pilihan, memeriksa fungsi produk, atau membawa pulang barang pada hari yang sama.
Sebagai ilustrasi, seseorang yang tiba-tiba membutuhkan peralatan rumah tangga, perlengkapan sekolah, atau perkakas kecil mungkin tidak selalu ingin menunggu proses pengiriman.
Kehadiran toko yang dekat dapat menawarkan kebutuhan berbeda dibanding belanja online: akses langsung.
Paradoks inilah yang menarik dalam perkembangan industri ritel. Pertumbuhan digital tidak selalu berarti toko fisik kehilangan relevansinya. Dalam kategori tertentu, kanal digital dan toko fisik justru dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang berbeda.
Dari Kota Besar ke Kota Kecil, Peta Persaingan Ritel Mulai Berubah
Pencapaian 1.400 toko sebenarnya dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar pertumbuhan jumlah gerai.
Ekspansi ritel modern Indonesia berpotensi memasuki fase ketika kemampuan menjangkau konsumen di kota dan kabupaten menjadi semakin penting.
Di kota besar, perusahaan harus menghadapi persaingan yang lebih padat. Konsumen memiliki banyak pilihan, sementara lokasi strategis dapat semakin kompetitif.
Daerah tier 3 menghadirkan karakter berbeda.
Jumlah pemain besar mungkin belum sebanyak kota metropolitan. Pilihan produk juga dapat lebih terbatas. Dalam situasi tersebut, perusahaan yang mampu masuk lebih awal dan memahami kebutuhan lokal memiliki peluang membangun kedekatan dengan konsumen.
Namun, ekspansi ke daerah bukan berarti tanpa tantangan.
Membuka toko hanyalah tahap pertama. Tantangan berikutnya adalah memastikan produk yang tersedia benar-benar relevan, rantai pasok berjalan lancar, serta kualitas pelayanan tetap konsisten.
Semakin luas jaringan, semakin besar pula kompleksitas operasionalnya.
Customer-Centric Bukan Sekadar Pelayanan Ramah
MR.D.I.Y. menyebut pendekatan customer-centric sebagai bagian dari strategi pertumbuhannya.
Edwin mengatakan Perseroan terus memperdalam analisis terhadap pola pembelian, tingkat perputaran produk, dan perubahan permintaan untuk memahami kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah.
“MR.D.I.Y. Indonesia menjadikan kebutuhan pelanggan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan kurasi produk dan mengembangkan pengalaman berbelanja. Kami terus memperdalam analisis terhadap pola pembelian, tingkat perputaran produk, dan perubahan permintaan untuk memahami kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah,” ujar Edwin.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsep customer-centric dalam bisnis ritel tidak hanya berkaitan dengan keramahan karyawan.
Ada aspek yang lebih operasional.
Perusahaan harus memahami produk apa yang dicari konsumen, seberapa cepat suatu produk terjual, serta apakah kebutuhan pelanggan di satu wilayah berbeda dengan wilayah lainnya.
Hal ini menjadi semakin penting ketika jaringan telah mencapai 1.400 toko.
Kebutuhan konsumen di kota besar tentu tidak selalu identik dengan kebutuhan masyarakat di kabupaten atau wilayah tier 3. Kemampuan membaca perbedaan tersebut dapat menentukan apakah ekspansi jaringan benar-benar menghasilkan pertumbuhan jangka panjang.
MR.D.I.Y. Indonesia juga menyediakan sekitar 18.000 pilihan produk. Menjelang Hari Pelanggan Nasional, perusahaan mengkurasi lebih dari 800 produk dengan penawaran harga lebih hemat hingga 52%.
Produk tersebut mencakup kebutuhan merapikan rumah, perlengkapan sekolah dan kreativitas, olahraga, hobi dan game, perkakas, liburan, hingga fesyen dan pernak-pernik.
Simulasi: Apa Dampak Toko Ritel yang Lebih Dekat bagi Konsumen?
Bayangkan sebuah keluarga yang tinggal di kota atau kabupaten yang sebelumnya memiliki pilihan ritel modern terbatas.
Untuk membeli perlengkapan rumah, alat sekolah, perkakas, dan kebutuhan lainnya, mereka mungkin harus pergi ke pusat kota atau mengunjungi beberapa toko berbeda.
Kehadiran satu toko dengan pilihan produk yang lebih lengkap dapat mengubah pola belanja tersebut.
Konsumen tidak harus menggabungkan seluruh kebutuhan dalam perjalanan yang jauh. Mereka dapat membeli barang yang diperlukan saat kebutuhan muncul.
Bagi pelanggan, nilai utamanya adalah akses dan kenyamanan.
Bagi perusahaan, kedekatan dengan konsumen membuka peluang transaksi yang sebelumnya mungkin tidak tersedia.
Ilustrasi tersebut bukan data spesifik mengenai perilaku pelanggan MR.D.I.Y., tetapi menggambarkan salah satu alasan mengapa ekspansi jaringan fisik masih relevan di negara dengan kondisi geografis seluas Indonesia.
Apa Tantangan Setelah MR.D.I.Y. Memiliki 1.400 Toko?
Pertumbuhan jaringan membawa peluang sekaligus risiko.
Semakin banyak toko berarti perusahaan harus menjaga beberapa aspek secara konsisten, antara lain:
ketersediaan produk;
kualitas rantai pasok;
standar pelayanan;
kemampuan karyawan memahami produk;
relevansi pilihan barang di setiap wilayah.
MR.D.I.Y. menyatakan terus berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan kompetensi karyawan, termasuk pemahaman produk dan keterampilan interpersonal.
Langkah tersebut menjadi penting karena konsumen tidak hanya menilai sebuah jaringan ritel dari jumlah tokonya.
Pengalaman pelanggan di toko ke-10 harus tetap memiliki standar yang baik ketika perusahaan telah memiliki toko ke-1.400.
Di titik inilah tantangan ekspansi skala besar sebenarnya berada.
Membuka toko dapat dilakukan melalui investasi dan perencanaan. Menjaga agar ribuan titik penjualan tetap relevan bagi konsumen membutuhkan kemampuan operasional yang jauh lebih kompleks.
Ekspansi MR.D.I.Y. dan Masa Depan Ritel Modern Indonesia
Pencapaian MR.D.I.Y. 1.400 toko menunjukkan bahwa industri ritel modern Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan di tengah perubahan perilaku belanja masyarakat.
Ekspansi ke daerah tier 3 dan luar Pulau Jawa menjadi bagian yang paling menarik dari perkembangan tersebut.
Peta pertumbuhan ritel tampaknya semakin luas. Kota metropolitan tetap penting, tetapi pertumbuhan berikutnya berpotensi semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjangkau konsumen yang berada di luar pusat ekonomi tradisional.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat MR.D.I.Y. dapat membuka toko baru.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setiap toko mampu memahami kebutuhan konsumennya masing-masing.
Jika ekspansi berhasil dipadukan dengan pemahaman terhadap karakter pasar lokal, 1.400 toko dapat menjadi lebih dari sekadar angka. Pencapaian itu dapat menjadi gambaran perubahan cara ritel modern menjangkau konsumen Indonesia.
Pantau terus perkembangan industri ritel dan ekspansi bisnis di Indonesia untuk melihat bagaimana persaingan pasar terus berubah.
Baca Juga: Perlengkapan Dapur hingga Mainan Anak, Ini Daftar Produk Lokal Terjangkau di MR.D.I.Y.
Baca Juga: MR.D.I.Y. Perluas Peran, Tak Sekadar Toko Perkakas tapi Jadi Panggung Kreativitas
FAQ
Berapa jumlah toko MR.D.I.Y. Indonesia saat ini?
MR.D.I.Y. Indonesia telah mencapai 1.400 toko pada September 2026. Pencapaian tersebut memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu jaringan peritel perlengkapan rumah tangga dengan jaringan luas di Indonesia.
Berapa target pembukaan toko MR.D.I.Y. pada 2026?
MR.D.I.Y. Indonesia menargetkan pembukaan sedikitnya 270 toko baru sepanjang 2026. Target tersebut menunjukkan strategi ekspansi perusahaan masih berjalan agresif meskipun jaringan gerainya telah mencapai 1.400 lokasi.
Berapa toko baru yang telah dibuka MR.D.I.Y. hingga Agustus 2026?
Hingga Agustus 2026, MR.D.I.Y. Indonesia telah membuka 177 toko baru. Perseroan masih melanjutkan ekspansi untuk mencapai target pembukaan minimal 270 toko baru sepanjang tahun.
Di mana saja ekspansi MR.D.I.Y. Indonesia dilakukan?
Jaringan MR.D.I.Y. telah menjangkau 445 dari 514 kota dan kabupaten di Indonesia serta hadir di 37 dari 38 provinsi. Ekspansi juga menjangkau daerah tier 3, termasuk Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Buton Tengah.
Mengapa MR.D.I.Y. memperluas jaringan ke daerah tier 3?
Berdasarkan strategi ekspansinya, MR.D.I.Y. terus memperluas akses pelanggan terhadap produk kebutuhan sehari-hari. Dari sudut pandang bisnis, daerah tier 3 juga berpotensi menjadi ruang pertumbuhan baru karena penetrasi ritel modern di sejumlah wilayah masih belum sepadat kota metropolitan.
Apa arti toko standalone bagi strategi MR.D.I.Y.?
Sekitar 80% jaringan MR.D.I.Y. Indonesia merupakan toko mandiri atau standalone stores. Model tersebut memungkinkan fleksibilitas lokasi yang lebih besar dan dapat mendukung ekspansi ke wilayah yang tidak selalu memiliki pusat perbelanjaan besar.
Mengapa toko fisik masih berkembang di era belanja online?
Toko fisik masih memiliki relevansi karena sebagian konsumen ingin melihat produk secara langsung, membandingkan pilihan, atau mendapatkan barang tanpa menunggu proses pengiriman. Untuk kebutuhan rumah tangga dan produk yang dibutuhkan segera, kedekatan lokasi dapat menjadi nilai penting bagi konsumen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2, Cek Jadwal Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah







