Giliran Manajemen INDY Respons Kebijakan Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

AKURAT.CO Manajemen PT Indika Energy Tbk. (INDY) buka suara soal kebijakan ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Corporate Secretary INDY, Adi Pramono mengatakan perseroan senantiasa berkomitmen untuk mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan kebijakan Pemerintah Republik yang berlaku, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan tata kelola ekspor sumber daya alam.
Sehubungan dengan rencana penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam, perseroan saat ini terus memantau penyusunan regulasi tersebut serta berbagai informasi yang tersedia di ruang publik.
Baca Juga: Begini Respons Manajemen TINS Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI
"Mengingat regulasi dimaksud masih dalam tahap pembahasan dan belum diundangkan, kami belum dapat memberikan penilaian definitif mengenai dampak maupun mekani implementasinya terhadap kegiatan usaha kami," ujar Adi dalam keterbukaan informasi BEI, Sabtu (30/5/2026).
Perseroan, lanjut Adi, akan melakukan kajian lebih lanjut terhadap ketentuan yang berlaku setelah regulasi tersebut diterbitkan secara resmi dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kesiapan operasional serta kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai perusahaan yang agresif membangun industri pengolahan di dalam negeri atau hilirisasi berpotensi lebih tahan menghadapi perubahan aturan ekspor ini.
Beberapa perusahaan yang dinilai lebih resilien terhadap kebijakan tersebut antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
“Emiten yang berkomitmen penuh dalam menerapkan hilirisasi tentunya bisa mendapatkan benefit. Ada hilirisasi nikel, tembaga dan aluminium, misalnya ada Antam, INCO, NCKL, MBMA, itu memang untuk hilirisasi,” ujar Nafan.
Ia menjelaskan, perusahaan-perusahaan tersebut tidak lagi hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah, melainkan mulai masuk ke rantai industri bernilai tambah yang lebih tinggi.
Strategi ini dinilai membuat bisnis mereka lebih adaptif terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional maupun potensi hambatan ekspor.
Tak hanya sektor hilirisasi mineral, emiten yang fokus pada kebutuhan domestik juga dinilai memiliki daya tahan lebih baik. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, berada dalam posisi relatif aman karena sebagian besar produksinya diserap pasar dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








