ASEAN Bangun Kekuatan Baru Lewat Koridor Nikel RI-Filipina

AKURAT.CO Indonesia dan Filipina membangun koridor nikel ASEAN untuk memperkuat rantai pasok global dan industri baterai kendaraan listrik.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama pelaku industri Filipina resmi membentuk inisiatif “Indonesia-Philippines Nickel Corridor” atau koridor nikel RI-Filipina. Langkah ini dinilai menjadi strategi baru ASEAN dalam menguasai rantai pasok mineral kritis dunia, khususnya nikel untuk industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Kesepakatan itu diadakan dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Filipina, yang berlangsung bertepatan dengan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto pada rangkaian KTT ASEAN ke-48.
Baca Juga: Perdagangan Domestik Jadi Andalan, Kadin Bidik Ekonomi 8%
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Bernardino Moningka Vega mengatakan, kerja sama tersebut bukan sekadar perdagangan komoditas mentah, melainkan upaya membangun rantai nilai industri mineral yang terintegrasi di kawasan ASEAN.
“Kerja sama penguatan rantai pasok mineral kritis dalam inisiatif Indonesia-Philippines Nickel Corridor ini menjadi model baru kerja sama ekonomi kawasan yang tidak hanya berfokus pada perdagangan komoditas, tetapi juga pembangunan rantai nilai industri yang lebih kuat,” ujar Bernardino dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2025, Indonesia memproduksi sekitar 2,6 juta metrik ton nikel per tahun, sementara Filipina mencapai sekitar 270 ribu metrik ton. Secara gabungan, kedua negara menyumbang sekitar 73,6 persen produksi tambang nikel global.
Dari sisi cadangan, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 62 juta metrik ton cadangan nikel, sedangkan Filipina mencapai 4,8 juta metrik ton. Angka tersebut menjadikan kedua negara sebagai kekuatan utama dalam rantai pasok baterai global.
Melalui kolaborasi antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA), kerja sama akan mencakup pertukaran data dan informasi nikel, dialog kebijakan dan regulasi, promosi investasi lintas negara, pengembangan metodologi environmental, social, and governance (ESG), hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor nikel.
Baca Juga: Tak Sekadar Semantik, Kadin Usulkan Istilah Buruh Diganti dengan Pekerja
Bernardino menyebut forum tersebut juga menjadi bagian dari langkah ASEAN menghadapi perubahan geoekonomi global yang semakin agresif terhadap perebutan mineral kritis.
“Forum tingkat tinggi Kadin Indonesia-PCCI telah meletakkan peta jalan tidak hanya untuk kerja sama bilateral, tetapi juga untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih siap menghadapi realitas geoekonomi saat ini,” katanya.
Kerja sama ini menjadi penting bagi Indonesia karena kebutuhan bahan baku industri hilirisasi nikel nasional terus meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia agresif membangun ekosistem kendaraan listrik mulai dari smelter, bahan baku baterai, hingga manufaktur EV.
Sementara bagi Filipina, kemitraan ini membuka peluang peningkatan nilai tambah industri melalui pemrosesan regional dan investasi baru. Selama ini Filipina dikenal sebagai eksportir bijih nikel mentah, serupa dengan posisi Indonesia sebelum kebijakan larangan ekspor mineral mentah diterapkan pada 2020.
Selain sektor nikel, forum bisnis tersebut juga menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis lain. Salah satunya kerja sama aviasi antara Garuda Maintenance Facility AeroAsia dan JAR Aviation Services dengan nilai indikatif mencapai 80 juta dolar AS.
Forum juga mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pemrosesan nikel di Filipina oleh Agro Investama Group bersama RBN Solutions Inc. dan Ploutus Inc..
Proyek tersebut ditargetkan memasok minimal 200 ribu metrik ton nikel per bulan mulai Juni 2026 untuk mendukung rantai pasok baterai dan kendaraan listrik global.
Presiden Philippine Chamber of Commerce and Industry Ferdinand Ferrer mengatakan integrasi industri mineral kritis ASEAN akan menjadi fondasi baru penguatan ekonomi kawasan.
“ASEAN akan paling kuat ketika bertindak sebagai satu kesatuan. Dan inti dari persatuan ini adalah hubungan bilateral yang sangat kuat antara Indonesia dan Filipina, dengan total populasi hampir 400 juta jiwa,” ujar Ferrer.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini






