Bulog Ajak Gen Z Perkuat Rantai Pasok Pangan Nasional Lewat Teknologi Digital
Hefriday | 10 November 2025, 13:42 WIB

AKURAT.CO Perum Bulog mendorong generasi muda, khususnya Gen Z, untuk berperan aktif dalam rantai pasok pangan nasional.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat distribusi, menjaga stabilitas harga, serta memastikan ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga secara berkelanjutan.
Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, menyampaikan bahwa anak muda kini memiliki peluang luas untuk terlibat dalam distribusi kebutuhan pokok melalui berbagai skema kemitraan yang dapat dijalankan secara fleksibel.
Dengan dukungan teknologi digital, Gen Z disebut dapat ikut menyalurkan beras SPHP, minyak goreng, gula, hingga komoditas pangan lainnya tanpa harus memiliki toko fisik.
“Adik-adik Gen Z bisa ikut mendistribusikan beras SPHP, minyak, gula, dan komoditas lain. Cukup dari rumah dengan dukungan platform digital, dan di situ bisa dapat cuan,” ujar Febby dalam Nusantara Food Summit 2025 di Tangerang, Senin (10/11/2025).
Selain membuka akses distribusi berbasis digital, Bulog juga menawarkan kemitraan dari hulu hingga hilir.
Kerja sama tersebut mencakup kegiatan on-farm bersama petani dan gapoktan, penyediaan bahan baku untuk pabrik penggilingan Bulog di sentra-sentra produksi, hingga peluang pembangunan gudang komoditas bagi generasi muda yang memiliki lahan.
Menurut Febby, kebutuhan gudang pangan terus meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi dalam negeri. Saat ini, Bulog memiliki kapasitas gudang mencapai 3,8 juta ton, namun angka tersebut dinilai masih harus ditingkatkan.
“Generasi muda yang punya lahan bisa membangun gudang komoditas dan bekerja sama dengan Bulog,” katanya.
Bulog juga mengelola jaringan distribusi pangan Rumah Pangan Kita (RPK) yang kini telah berkembang menjadi lebih dari 27.000 titik di seluruh Indonesia. Febby menyebut jaringan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sektor pangan memiliki peluang bisnis yang luas dan dapat diakses oleh generasi muda.
Pada kesempatan yang sama, Febby menegaskan bahwa situasi pangan nasional menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang 2025, Indonesia tidak melakukan impor beras, yang menurutnya merupakan hasil dari peningkatan produksi dalam negeri.
Produksi beras nasional diperkirakan mencapai 34 juta ton setara beras, sementara kebutuhan konsumsi berada di kisaran 31 juta ton per tahun.
Meskipun kondisi produksi lebih tinggi daripada konsumsi, pemerintah tetap harus memastikan ketersediaan beras merata di seluruh wilayah, termasuk daerah dengan akses sulit seperti pegunungan Papua.
“Pemerintah tidak boleh mengambil risiko. Ketersediaan beras harus tetap terjamin, meskipun biaya distribusinya tinggi,” ucapnya.
Dari sisi lain, Bulog tidak hanya menjalankan tugas penyerapan gabah dan stabilisasi harga beras, tetapi juga membuka ruang kolaborasi di sektor komersial. Peluang kemitraan meliputi pemasaran ayam, telur, daging, cabai, dan berbagai komoditas pangan lainnya.
“Peluangnya ada, dan ini momentum bagi generasi muda dari petani menjadi founder, dari lokal menjadi nasional,” kata Febby.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 8Prediksi Sassuolo vs Lazio 28 Oktober 2026: Jay Idzes Absen, Biancocelesti Diunggulkan
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok







