Akurat

Impor Barang Modal Naik di 7 Bulan Pertama 2025, Didorong Industri EV hingga Smartphone

Hefriday | 3 September 2025, 17:47 WIB
Impor Barang Modal Naik di 7 Bulan Pertama 2025, Didorong Industri EV hingga Smartphone

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kinerja impor Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2025 menunjukkan tren kenaikan.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh lonjakan impor barang modal, termasuk central processing unit (CPU), mobil listrik, hingga ponsel pintar yang semakin diminati pasar domestik.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, secara kumulatif nilai impor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD136,51 miliar. Angka ini tumbuh 3,41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC).

Ia menegaskan, struktur impor masih didominasi bahan baku atau penolong dengan porsi 71%, disusul barang modal sebesar 20,05%, dan barang konsumsi 8,94%.

“Beberapa faktor yang mendorong kenaikan impor barang modal adalah meningkatnya kebutuhan CPU, mobil listrik, peralatan navigasi kapal, perangkat penerima sinyal, serta ponsel pintar,” kata Budi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (3/9/2025).

Baca Juga: Impor Barang Modal Naik 20,56 Persen, BPS: ada Sinyal Perluasan Industri

Data Kemendag menunjukkan, impor nonmigas pada Januari-Juli 2025 naik 6,97% menjadi USD118,13 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal ini menandakan meningkatnya permintaan industri dalam negeri terhadap bahan baku dan barang modal untuk mendukung kegiatan produksi maupun investasi.

Secara lebih rinci, impor barang modal melonjak hingga 20,56% dibanding Januari-Juli 2024. Kenaikan juga terjadi pada impor bahan baku atau penolong meski relatif kecil, yakni 0,15%. Sebaliknya, impor barang konsumsi justru mengalami penurunan sebesar 2,47%.

Untuk kelompok bahan baku, lonjakan impor tertinggi tercatat pada emas batangan, biji kakao, senyawa kimia untuk cakram elektronik, sulfur, serta naphtha. Kenaikan ini mengindikasikan tingginya kebutuhan industri pengolahan, terutama yang terkait sektor manufaktur dan energi.

Sebaliknya, sejumlah komoditas barang konsumsi mengalami penurunan impor, seperti bahan bakar diesel, pendingin ruangan, bawang putih, krimer non-susu, dan buah pir. Penurunan ini diperkirakan terkait dengan kebijakan substitusi impor maupun pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Sementara itu, beberapa komoditas impor nonmigas yang mencatat peningkatan signifikan antara lain kakao dan olahannya (HS 18) yang naik 148,22%, logam mulia dan perhiasan (HS 71) sebesar 87,67%, serta kelompok garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) dengan kenaikan 69,16% (CtC).

Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat dengan kontribusi gabungan mencapai 52,65% terhadap total impor nonmigas. Namun, pertumbuhan tertinggi justru datang dari negara lain, yakni Ekuador dengan kenaikan 135,25%, Uni Emirat Arab 79,10%, dan Kanada 33,43%.

Untuk periode Juli 2025 saja, nilai impor Indonesia tercatat sebesar USD20,58 miliar. Nilai ini naik 6,43% dibanding bulan sebelumnya (MoM), namun masih lebih rendah 5,86% dibanding Juli 2024 (YoY). Dari total tersebut, impor migas menyumbang USD2,51 miliar, sedangkan impor nonmigas mencapai USD18,06 miliar.

Kemendag menilai tren kenaikan impor barang modal ini menjadi indikasi adanya perbaikan iklim investasi dan peningkatan kapasitas industri nasional.

Namun, di sisi lain, pemerintah juga diingatkan untuk menjaga keseimbangan agar impor yang tinggi tetap dapat diimbangi dengan pertumbuhan ekspor serta penguatan daya saing industri dalam negeri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa