Tarik Investasi Asing, DPR Dorong Penyederhanaan Regulasi Migas

AKURAT.CO Komisi XII DPR RI menekankan perlunya penyederhanaan regulasi dan birokrasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) guna menciptakan iklim usaha yang kompetitif.
Langkah ini menjadi fokus dalam penyusunan Undang-Undang Migas yang baru, terutama untuk mendukung masuknya investasi asing dan penerapan teknologi tinggi di sektor hulu.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyampaikan bahwa sektor hulu migas merupakan industri yang padat modal dan padat teknologi. Oleh karena itu, penyederhanaan aturan menjadi prasyarat penting agar pelaku usaha tidak terbebani oleh sistem yang rumit dan berbiaya tinggi.
Baca Juga: Bahas Amandemen UU Ketenagalistrikan, Komisi XII Singgung Hak Akses Masyarakat
"Nah teknologi itu kalau ekosistemnya terbangun secara baik maka menjadi murah. Karena betapapun harus kita hitung biaya produksi per barel itu berapa, kan begitu. Itu harus ada nilai ekonomi yang kita bisa," jelas Sugeng dalam forum Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi XII bersama Aspermigas dan IPA di Kompleks Parlmen Senayan, Jakarta, Selasa (22/7/2025).
Sugeng menilai, tantangan utama Indonesia dalam mengembangkan sektor migas bukan terletak pada cadangan alam, melainkan pada efisiensi sistem dan keberanian berinovasi. Negara-negara seperti Amerika Serikat mampu melesat menjadi produsen utama dunia karena sukses membangun ekosistem eksplorasi yang ramah investasi dan minim hambatan birokrasi.
"Gara-gara menerapkan teknologi eksploitasi yakni dengan unconventional drilling dan juga dengan fracking. Nah itulah yang disebut dengan shale oil atau shale gas. Maka sekarang Amerika menjadi produksi minyak dan minyak utamanya yang terbesar di dunia. Karena apa? Karena teknologinya," tegasnya.
Baca Juga: Komisi XII Bakal Panggil Perusahaan Batu Bara Abai Reklamasi
Ia menekankan, Komisi XII DPR RI berkomitmen agar UU Migas ke depan tidak hanya menjadi pengatur, tetapi juga menjadi enabler atau pemberi kemudahan dan kepastian hukum bagi pelaku usaha.
"Penyederhanaan birokrasi dan harmonisasi regulasi menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan ketahanan energi nasional dan pertumbuhan sektor strategis migas," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









