Backlog Masih Tinggi, REI: Sektor Properti Tetap Menjanjikan, PIK Jadi Barometer Pasar Nasional

AKURAT.CO Di tengah dinamika ekonomi dan tekanan pasar yang terjadi saat ini, sektor properti nasional tetap menunjukkan daya tahan yang kuat.
Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI), Bambang Ekajaya, menilai, kawasan seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) dapat menjadi contoh nyata bagaimana sebuah pengembangan kawasan tetap eksis dan bahkan terus berkembang di tengah tantangan ekonomi.
“PIK adalah salah satu benchmark properti nasional. Meski situasi pasar fluktuatif, pengembangan terus berlanjut hingga PIK 3 dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa jika konsep pengembangannya kuat dan konsisten, pasar tetap merespons positif,” ujar Bambang kepada Akurat.co, Jumat (23/5/2025).
Ia menyoroti bahwa secara nasional, sektor perumahan masih sangat potensial. Berdasarkan data BPS 2024, backlog perumahan di Indonesia mencapai 15 juta unit. Artinya, kebutuhan hunian belum terpenuhi dan pasar masih sangat terbuka.
“Potensi pasarnya besar sekali. Tapi harus kita akui, lebih dari 70 persen kebutuhan properti saat ini datang dari segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan menengah bawah (MBT),” jelasnya.
Namun, Bambang juga menggarisbawahi tantangan nyata yang dihadapi sektor ini, khususnya keterbatasan subsidi untuk MBR.
Tahun 2025, pemerintah hanya menyiapkan subsidi untuk sekitar 420 ribu unit, jauh di bawah target ambisius sebesar 3 juta unit hunian per tahun.
“Gap ini harus dijembatani dengan kebijakan yang lebih agresif dan dukungan dari semua pihak, termasuk sektor swasta. Tanpa itu, backlog akan semakin sulit dikejar,” tegasnya.
Bambang juga menilai bahwa saat ini adalah momen yang tepat bagi investor yang memiliki dana tunai untuk membeli properti.
Menurutnya, banyak lahan dan properti komersial yang kini ditawarkan di bawah harga pasar, menciptakan peluang menarik bagi para investor.
“Bagi yang punya dana cash, ini waktu yang sangat bagus untuk beli properti. Banyak aset bagus sedang ditawarkan dengan harga menarik. Tinggal pilih yang prospektif dan sesuai kebutuhan,” katanya.
Di sisi lain, meskipun kebutuhan akan hunian terus meningkat, Bambang mengakui bahwa pasar hunian vertikal seperti apartemen dan kondominium masih menunjukkan kelemahan.
“Pasar masih lebih menyukai rumah tapak. Hunian vertikal belum sepenuhnya pulih, terutama di segmen menengah bawah. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengembang dan pemerintah untuk mengubah persepsi dan menciptakan ekosistem vertikal yang nyaman,” imbuhnya.
Menutup pernyataannya, Bambang menegaskan bahwa dengan pendekatan tepat, sinergi antarpemangku kepentingan, serta kejelasan arah kebijakan pemerintah, sektor properti Indonesia masih sangat layak untuk dijadikan motor pemulihan ekonomi nasional.
Baca Juga: Katalog Promo JSM Indomaret 22-25 Mei 2025 Terbaru, Banyak Diskon dan Harga Spesial!
“Sektor ini tidak hanya memberikan multiplier effect yang besar, tapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat: tempat tinggal. Maka, kita harus menjaganya tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo








