AKURAT.CO Presiden Joko Widodo mengeluarkan aturan baru Tapera pada Senin (20/5/2024), yang memicu respons kritis dari warganet di Linkedin. Kebijakan ini, yang diatur dalam PP Nomor 21 Tahun 2024, memaksa pegawai untuk menyisihkan 3% dari pendapatan bulanan mereka untuk tabungan perumahan rakyat atau tapera.
Respons tersebut menyoroti kekhawatiran terhadap pengelolaan dana, campur tangan negara dalam keputusan personal, dan potensi penurunan daya beli masyarakat.
Salah satu wargatnet Linkedin @Bustamar Koto, mengkhawatiran akan potensi risiko dalam pengelolaan dana publik oleh pemerintah. Respons ini menambah panjang daftar keraguan dan kritik yang muncul terhadap kebijakan baru ini. "Ini nasibnya akan sama dengan uang Jamsostek, Asabri, Dana Haji, lahan baru korupsi," unggahnya.
Baca Juga: Gemukkan Dana Tabungan Perumahan, Pemerintah Terbitkan PP 21/2024
Selain itu, @Novia Dwi Megah Alviana mempertanyakan relevansi campur tangan negara dalam keputusan pribadi. "Apa sampai perumahan, negara juga ikut andil dalam pengambilan keputusan hidup tiap org di Indonesia? Ini yang ngide siapa sih, ada-ada aja," ucapnya.
Kemudian, @Abdul Rahmann berpendapat bahwa aturan ini akan menggerus daya beli masyarakat dan seharusnya bersifat opsional, bukan kewajiban. "Menggerus daya beli masyarakat aja, seharusnya optional ya, bukan kewajiban," katanya.
Sementara itu, @Mubin Yuwana menyuarakan kekhawatiran akan nasib perumahan murah yang sudah dibangun sebelumnya, yang sering kali tidak layak huni dan terbengkalai. "Di saat masyarakat membutuhkan dana lebih, para penguasa memikirkan cara mengambil uang rakyat dengan cara lain," ujarnya.
Respons warganet tersebut mencerminkan beragam pandangan dan kekhawatiran terkait implikasi dari aturan baru Tapera yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Sebelumnya, masyarakat, terutama para pekerja, tengah ramai membahas tentang perubahan aturan terkait kewajiban iuran untuk Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang diatur oleh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024.
Aturan tersebut menyebutkan bahwa sekarang akan ada pemotongan sebesar 3% dari gaji para pekerja, termasuk ASN, TNI-Polri, pegawai BUMN, dan pekerja swasta, untuk disimpan dalam Tapera.
Sebelumnya, aturan mengenai iuran Tapera untuk peserta pekerja dari berbagai lembaga diatur secara terpisah oleh instansi masing-masing, seperti Menteri BUMN, Pemerintah Daerah, dan lainnya. Namun, dengan adanya perubahan ini, semua iuran tersebut akan diatur secara terpusat oleh pemerintah pusat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









