Akurat

Atasi Perubahan Iklim, Wakaf Hutan Jadi Sumber Pendanaan Inovatif

Arief.Permana | 1 Desember 2023, 21:17 WIB
Atasi Perubahan Iklim, Wakaf Hutan Jadi Sumber Pendanaan Inovatif

AKURAT.CO Jelang pelaksanaan COP 28 yang dimulai hari ini, Jumat, 1 Desember 2023 di Dubai, MOSAIC (Muslim for Shared Action on Climate Impact) meluncurkan inisiatif Wakaf Hutan sebagai salah satu solusi pendanaan inovatif bagi masalah perubahan iklim yang dihadapi Indonesia.

Steering Committee MOSAIC, Rika Novayanti mengatakan Wakaf Hutan merupakan gerakan kolaboratif penggalangan dana untuk pelestarian hutan melalui wakaf sebagai salah satu instrumen filantropi Islam.

"Peluncuran inisiatif Wakaf Hutan dalam suasana gelaran COP 28 dimana berbagai negara bernegosiasi tentang pencapaian target emisi adalah momen yang tepat untuk mengirimkan sinyal darurat bahwa perlindungan alam lebih penting dari profit dan kepentingan politik," kata Rika dikutip Jumat (1/12/2023).

Baca Juga: KESDM: Indonesia Harus Cari Keseimbangan Kebutuhan Energi Untuk Atasi Perubahan Iklim

Mengutip catatan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Indonesia membutuhkan dana sebesar USD281 miliar atau sekitar Rp4.299 triliun untuk mencapai target NDC (Nationally Determined Contribution) pada tahun 2030. Pembiayaan dan filantropi Islam bisa menjadi alternatif solusi pendanaan yang inovatif karena potensinya yang sangat besar di Indonesia.

Wakil Sekretaris Badan Wakaf Indonesia, Emmy Hamidiyah mengatakan potensi wakaf mencapai Rp180 triliun setiap tahun. Tercatat hingga Oktober 2023, sudah Rp2,3 triliun yang terkumpul melalui wakaf uang. Namun sebagian besar masih tersalurkan untuk pendidikan dan pengentasan kemiskinan sedangkan untuk lingkungan masih kecil sekali atau di bawah Rp5 miliar.

Rika menambahkan, inisiatif Wakaf Hutan telah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu dan dimulai secara mandiri oleh beberapa komunitas masyarakat di beberapa lokasi seperti Hutan Wakaf di Janto, Nanggroe Aceh Darussalam. Gerakan pelestarian hutan sejenis juga telah dilakukan komunitas masyarakat Laskar Hijau di Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa seperti di Brazil dan Kongo, hutan Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mendorong pertumbuhan green economy dan carbon trading.

Demand secara global untuk carbon trading saat ini dinilai sudah ada, tinggal bagaimana Indonesia bisa menyediakan supply. Menurutnya, Wakaf hutan sejalan dengan visi program perhutanan sosial dari pemerintah yang bertujuan untuk menjaga kondisi hutan tetap lestari dengan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi kehidupan masyarakat sekitar.

"Saya ingin melihat wakaf hutan dipromosikan sebagai bagian dari upaya mengembalikan peran hutan sebagai aset yang paling berharga, yang saat ini semakin dilupakan," harap Bambang.

Kepala Divisi Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Ignatius Denny Wicaksono juga menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif wakaf hutan. Menurutnya, di bursa karbon kredit, inisiatif seperti Wakaf Hutan ini sangat potensial untuk menjadi carbon credit kategori premium karena tidak hanya menghasilkan karbon namun juga memberikan manfaat sosial yang nyata kepada masyarakat sekitar dan biodiversity.

Kampanye wakaf hutan yang diluncurkan hari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi filantropi Islam sebagai salah satu solusi inovatif bagi pembiayaan aksi iklim. Dana yang terkumpul dari penggalangan ini akan disalurkan untuk program ekologi, ekonomi dan edukasi melalui Yayasan Hutan Wakaf Bogor sebagai salah satu nazir wakaf hutan yang terletak di Desa Cibunian, Kabupaten Bogor.

"Melalui kampanye wakaf hutan, kami berharap dapat memberikan inspirasi bahwa pendanaan iklim tidak harus hanya bersumber dari luar negeri, namun dapat juga melalui kolaborasi dan pemanfaatan potensi besar dari pendanaan umat," kata Rika.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.