Jokowi Soal Isu Pemakzulan Gibran: Silakan Ikuti Mekanisme Konstitusi, Tak Masalah

AKURAT.CO Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) merespons isu pemakzulan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming, yang berkembang di publik setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara ijazah.
Dia pun mempersilakan untuk menempuh jalur dan mekanisme yang telah tersedia dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki mekanisme demokrasi dan aturan hukum yang harus dipatuhi.
"Di negara kita ada mekanisme demokrasi yang harus dilalui. Jadi ya silakan ikuti mekanisme demokrasi yang tersedia, yang sesuai dengan konstitusi, yang sesuai dengan aturan hukum yang ada," kata Jokowi di kediamannya, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: PKS Minta DPR Cermati Lebih Lanjut Putusan MK Soal Syarat Pendidikan Gibran
Pihaknya juga tidak mempersoalkan hal tersebut, jika nantinya melewati mekanisme yang ada. "Saya kira itu. Enggak ada masalah," tambahnya.
Sebelumnya, Jokowi menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) berkaitan dengan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Dia menghormati segala putusan MK berserta seluruh tahapan dan pertimbangan hukum yang diajukan.
"Ya, kita menghormati putusan MK beserta tahapan-tahapan yang ada, termasuk di dalamnya pertimbangan hukum yang diberikan. Dan yang paling penting, kita semua menghormati dari konstitusi yang kita miliki," kata Jokowi kepada media, Kamis (8/10/2026).
Saat ditanya terkait pertimbangan pertimbangan MK yang menyebutkan tidak ditemukannya ijazah atau dokumen pendidikan setara SMA atau sederajat Gibran. Dia menyampaikan bahwa setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda.
Baca Juga: Komarudin PDIP Minta Gibran Mundur Usai Putusan MK, Singgung Pemakzulan
"Jadi setiap negara itu memiliki sistem pendidikan yang berbeda-beda. Kalau kita ini tahapan dari bawah kan ada SD, SMP, SMA, S1, atau ada di sini juga diploma. Di luar juga ada sistem, sistemnya sendiri," ujarnya.
Dia juga menjelaskan adanya sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan negara lain.
"Ada yang dari seperti kita SD, SMP, kemudian secondary school, kemudian masuk ke universitas. Tapi juga ada sistem yang lewat program pathway, kemudian baru masuk ke diploma dan S1-nya. Saya kira setiap negara sistemnya berbeda-beda," jelas Jokowi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 6Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 7Sejarah Pekan Antariksa Dunia: Mengapa Diperingati 4–10 Oktober?
- 8Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 9Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara
- 10Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver









