Pentingnya Pembinaan Moral sebagai Fondasi Perlindungan Perempuan dan Anak

AKURAT.CO Menteri Agama, Nasaruddin Umar, turut mendukung langkah dalam perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan seksual. Mengingat, kasus kekerasan seksual ini masih menjamur di Indonesia.
Dia menyoroti, pentingnya pembinaan moral sebagai fondasi perlindungan perempuan dan anak. Dia juga mendorong agar rumah ibadah, menjadi ruang aman yang inklusif bagi anak-anak dan remaja.
"Kekerasan adalah gejala rapuhnya nilai. Pendidikan agama di madrasah dan rumah ibadah harus memperkuat nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap perbedaan," ujar Nasaruddin, Jumat (11/7/2025).
Baca Juga: Ada 14.133 Kasus Kekerasan per Awal Juli 2025, Paling Banyak Dialami Perempuan
Sementara itu, Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Riza Patria, menegaskan bahwa desa merupakan garda terdepan dalam pencegahan kekerasan.
"Kami telah mendorong penguatan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), termasuk pembentukan Satgas Perlindungan di tingkat desa serta alokasi Dana Desa untuk mendukung upaya ini," pungkas Riza.
Sebelumnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat kasus kekerasan di Indonesia hingga 7 Juli 2025 mencapai 14.133 kasus, mayoritas terjadi di rumah tangga. Di mana, korban perempuan mencapai 12.161 orang dan korban laki-laki mencapai 2.913 orang.
Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) menunjukkan, satu dari lima perempuan pernah mengalami kekerasan. Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) mencatat, satu dari dua anak Indonesia menjadi korban.
Baca Juga: Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Pemerintah Segera Revisi Inpres Kejahatan Seksual
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan kondisi darurat yang membutuhkan respons cepat dan sistemik.
Dari analisa yang dilakukan, kasus-kasus kekerasan pada perempuan dan anak, disebabkan karena pola asuh dalam keluarga dan penggunaan gadget yang tidak bijaksana serta faktor keluarga.
"Karena dari beberapa kekerasan yang dialami atau dilakukan oleh anak-anak, hampir sebagian besar sumbernya penyebabnya dari pengaruh medsos atau gadget," kata Arifah, dikutip Jumat (11/7/2025).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 4Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 5Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 6Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 7Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 850 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot



