Apa Itu Stoik? Filosofi Kuno yang Kini Jadi Panduan Hidup Tenang

AKURAT.CO Kenapa ada orang tetap tenang saat kehilangan pekerjaan, gagal bisnis, atau menghadapi tekanan hidup? Banyak yang menyebut sikap seperti itu sebagai “stoik”. Tapi sebenarnya apa itu stoik bukan sekadar terlihat kuat atau tidak emosional.
Istilah stoik kini sering muncul di media sosial, buku pengembangan diri, hingga diskusi kesehatan mental. Banyak anak muda mulai tertarik karena filosofi ini dianggap membantu menghadapi stres dan ketidakpastian hidup.
Di balik tren tersebut, stoikisme sebenarnya adalah filsafat kuno yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun dan masih relevan hingga sekarang.
Jawaban Cepat: Apa Itu Stoik?
Apa itu stoik adalah sikap atau cara hidup yang berasal dari Stoikisme, yaitu aliran filsafat Yunani kuno yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari kebajikan, akal sehat, dan pengendalian diri.
Prinsip utama stoikisme meliputi:
-
Fokus pada hal yang bisa dikendalikan
-
Menerima hal di luar kendali dengan tenang
-
Mengutamakan kebajikan daripada kekayaan atau status
-
Menggunakan akal sehat dalam mengambil keputusan
Dalam filosofi stoik, kekayaan, popularitas, atau kesuksesan bukan sumber kebahagiaan utama. Yang terpenting adalah karakter dan cara berpikir.
Sejarah Stoikisme: Dari Yunani Kuno ke Dunia Modern
Stoikisme muncul sekitar tahun 300 SM di Athena dan didirikan oleh Zeno dari Citium. Nama stoik berasal dari “Stoa Poikile”, yaitu serambi tempat Zeno mengajar murid-muridnya.
Filsafat ini berkembang selama ratusan tahun dan mencapai puncaknya di Romawi melalui tokoh seperti:
-
Seneca
-
Epictetus
-
Marcus Aurelius
Ajaran mereka menekankan bahwa hidup yang baik bukan ditentukan oleh nasib, tetapi oleh cara seseorang merespons peristiwa hidup.
Banyak tulisan tokoh Stoik masih dibaca hingga sekarang karena dianggap praktis dan mudah diterapkan.
Prinsip Stoikisme yang Paling Penting
1. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Stoikisme membagi hidup menjadi dua:
Bisa dikendalikan:
-
Pikiran
-
Sikap
-
Keputusan
-
Tindakan
Tidak bisa dikendalikan:
-
Pendapat orang lain
-
Masa lalu
-
Keberuntungan
-
Cuaca
-
Situasi ekonomi
Stoik percaya stres muncul ketika kita mencoba mengontrol hal yang sebenarnya di luar kendali.
2. Kebajikan Lebih Penting dari Kekayaan
Menurut filosofi stoik, kebahagiaan tidak bergantung pada uang atau jabatan.
Yang dianggap sebagai kebaikan sejati adalah:
-
Kebijaksanaan
-
Keberanian
-
Keadilan
-
Pengendalian diri
Orang bisa kaya tapi tidak bahagia, sementara orang sederhana bisa hidup tenang jika memiliki karakter yang kuat.
3. Stoik Bukan Berarti Tidak Punya Emosi
Banyak orang mengira stoik berarti dingin dan tidak punya perasaan.
Padahal stoikisme mengajarkan:
-
Emosi itu normal
-
Yang penting adalah mengelolanya
-
Jangan membiarkan emosi menguasai keputusan
Konsep ini bahkan menjadi dasar terapi modern seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang membantu orang mengubah pola pikir negatif.
Kenapa Stoikisme Kembali Populer
Stoikisme mengalami kebangkitan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Penyebabnya antara lain:
-
Tekanan kerja meningkat
-
Ketidakpastian ekonomi
-
Overthinking generasi muda
-
Media sosial yang memicu perbandingan hidup
Banyak buku pengembangan diri modern mengadaptasi prinsip stoikisme karena dianggap praktis dan realistis.
Stoikisme terasa relevan karena tidak menjanjikan hidup sempurna, tetapi mengajarkan cara tetap tenang dalam keadaan sulit.
Insight: Stoikisme Sering Disalahpahami
Tren stoikisme di internet sering menyederhanakan ajaran aslinya.
Banyak konten menggambarkan stoik sebagai:
-
Tidak peduli orang lain
-
Selalu kuat
-
Tidak pernah sedih
-
Harus tahan menderita
Padahal stoikisme asli justru menekankan keseimbangan antara akal, moralitas, dan hubungan sosial.
Stoik bukan berarti kebal masalah, melainkan mampu menghadapi masalah dengan pikiran jernih.
Contoh Stoikisme dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan seseorang gagal lolos seleksi kerja.
Reaksi biasa:
-
Menyalahkan keadaan
-
Menyalahkan orang lain
-
Merasa hidup tidak adil
Pendekatan stoik:
-
Menerima hasil dengan tenang
-
Mengevaluasi kemampuan
-
Memperbaiki kekurangan
-
Mencoba lagi
Bukan berarti tidak kecewa, tetapi tidak tenggelam dalam kekecewaan.
Inilah inti stoikisme dalam kehidupan sehari-hari.
Kenapa Stoikisme Penting Dipahami
Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang merasa kehilangan kendali.
Stoikisme membantu:
-
Mengurangi kecemasan
-
Mengontrol emosi
-
Membuat keputusan rasional
-
Menjaga kesehatan mental
Filosofi ini paling relevan bagi:
-
Mahasiswa
-
Pekerja muda
-
Pengusaha
-
Orang yang sering overthinking
Mengabaikan kemampuan mengelola pikiran bisa membuat tekanan hidup terasa lebih berat dari yang sebenarnya.
Penutup
Stoikisme mengingatkan bahwa hidup tidak selalu bisa dikendalikan, tetapi cara kita merespons selalu bisa dipilih. Mungkin itulah alasan kenapa filsafat kuno ini terasa sangat modern.
Di tengah dunia yang penuh distraksi dan tekanan, pertanyaannya bukan lagi apakah stoikisme benar atau salah—melainkan apakah kita cukup tenang untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami stoikisme bisa menjadi langkah awal untuk melihat hidup dengan cara yang berbeda.
Baca Juga: Apa Arti Anarkisme Sebenarnya? Ternyata Berhubungan dengan Filsafat dan Ideologi Politik
Baca Juga: Kisah Kebijaksanaan Hasan al-Bashri Menghadapi Kezaliman
FAQ
Apa itu stoikisme dalam kehidupan sehari-hari?
Stoikisme dalam kehidupan sehari-hari adalah cara berpikir yang menekankan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan seperti sikap dan tindakan, serta menerima hal di luar kendali dengan tenang. Prinsip stoikisme membantu seseorang menghadapi kegagalan, tekanan kerja, atau konflik sosial tanpa bereaksi berlebihan. Filosofi stoik sering digunakan sebagai panduan praktis untuk menjaga ketenangan dan berpikir rasional.
Apa perbedaan stoik dan stoikisme?
Stoik adalah sebutan untuk orang yang menerapkan prinsip Stoikisme dalam hidupnya, sedangkan stoikisme adalah aliran filsafat atau sistem pemikiran yang menjadi dasar sikap tersebut. Stoikisme mencakup ajaran tentang kebajikan, pengendalian emosi, dan hidup rasional, sementara stoik lebih merujuk pada karakter atau perilaku seseorang yang tenang dan terkendali.
Mengapa stoikisme dianggap membantu kesehatan mental?
Stoikisme dianggap membantu kesehatan mental karena mengajarkan cara mengelola pikiran dan emosi secara rasional. Dengan memahami apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan, seseorang dapat mengurangi kecemasan dan stres berlebihan. Pendekatan stoikisme juga mempengaruhi terapi modern yang berfokus pada perubahan pola pikir negatif menjadi lebih realistis.
Bagaimana cara mulai menerapkan filosofi stoik?
Cara mulai menerapkan filosofi stoik bisa dimulai dengan membiasakan diri mengevaluasi pikiran sebelum bereaksi terhadap suatu masalah. Misalnya dengan bertanya apakah situasi tersebut berada dalam kendali atau tidak, lalu memilih tindakan yang rasional. Membaca kutipan tokoh stoik dan menulis refleksi harian juga sering digunakan sebagai latihan stoikisme modern.
Apakah stoik berarti tidak punya perasaan?
Stoik tidak berarti seseorang tidak memiliki perasaan atau menjadi dingin secara emosional. Stoikisme justru mengajarkan bahwa emosi adalah hal wajar, tetapi tidak boleh mengendalikan keputusan. Tujuan filosofi stoik adalah menjaga keseimbangan antara perasaan dan akal agar seseorang tetap bisa berpikir jernih dalam situasi sulit.
Siapa tokoh stoikisme yang paling terkenal?
Beberapa tokoh stoikisme yang paling terkenal berasal dari zaman Romawi, seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus. Tulisan mereka banyak membahas cara hidup tenang dan bijaksana di tengah kesulitan hidup. Pemikiran tokoh-tokoh ini masih sering dijadikan rujukan dalam buku stoikisme modern dan pengembangan diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





