Menerapkan Experiential Learning dalam Pembelajaran Bersama Guru Lain: Penjelasan Lengkap dan Contoh Penerapan

AKURAT.CO Bagaimana menerapkan experiential learning dalam pembelajaran bersama dengan guru lain? Pertanyaan ini kerap muncul dalam Modul 2 PSE Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 yang membahas tentang Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional dalam konteks Experiential Learning.
Model pembelajaran berbasis pengalaman ini semakin banyak diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia karena terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara emosional dan kognitif. Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian experiential learning, langkah-langkah penerapannya bersama guru lain, serta contoh konkret kolaborasi antarguru dalam konteks pembelajaran nyata.
Apa Itu Experiential Learning?
Experiential learning merupakan model pembelajaran berbasis pengalaman yang menekankan pengalaman langsung sebagai sumber utama pengetahuan dan keterampilan.
Experiential learning (EL) juga bisa diartikan sebagai metode pembelajaran melalui pembentukan pengalaman peserta didik. Dalam proses ini, siswa diberi kebebasan untuk memilih pengalaman yang ingin difokuskan, menentukan keterampilan yang ingin ditingkatkan, dan kemudian membangun konsep dari pengalaman nyata tersebut.
Dengan kata lain, experiential learning bukan hanya tentang “melakukan kegiatan”, tetapi juga tentang merenungkan makna dari pengalaman tersebut agar siswa dapat memahami konsep secara mendalam.
Mengapa Experiential Learning Penting Diterapkan Bersama Guru Lain?
Kolaborasi antarguru memungkinkan pembelajaran menjadi lebih luas, kontekstual, dan bermakna. Setiap guru memiliki keahlian dan sudut pandang yang berbeda, sehingga ketika mereka berkolaborasi, pengalaman belajar siswa menjadi lebih kaya.
Misalnya, guru IPA dapat memandu observasi lapangan, guru Bahasa Indonesia membantu refleksi dalam bentuk tulisan, sedangkan guru Seni mengarahkan siswa untuk mengekspresikan hasil belajar dalam bentuk visual atau pertunjukan. Melalui pendekatan lintas mata pelajaran seperti ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar kerja sama, tanggung jawab, dan empati—nilai-nilai utama dalam pembelajaran sosial emosional.
Prinsip Utama dalam Penerapan Experiential Learning
Agar pembelajaran berbasis pengalaman berjalan efektif, ada beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan:
-
Perencanaan yang matang.
Guru perlu menyiapkan rancangan kegiatan dengan jelas agar pengalaman yang didapat siswa relevan dan bermakna. -
Tujuan pembelajaran yang spesifik.
Tanpa arah yang jelas, kegiatan hanya akan menjadi aktivitas tanpa makna. Tujuan harus menggambarkan keterampilan atau nilai yang ingin dicapai siswa. -
Keterlibatan aktif guru.
Guru berperan sebagai fasilitator, bukan sekadar pengamat. Mereka membimbing, memberi umpan balik, dan membantu siswa merefleksikan pengalaman.
Langkah-Langkah Menerapkan Experiential Learning Bersama Guru Lain
Dalam konteks kolaboratif, penerapan experiential learning dapat dilakukan melalui tiga tahap besar: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Tahap Perencanaan
Tahap ini menjadi pondasi awal. Guru-guru duduk bersama untuk menentukan tema atau proyek lintas mata pelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata siswa.
Beberapa hal yang perlu disepakati bersama antara lain:
-
Tujuan pembelajaran lintas mapel dan kompetensi dasar masing-masing.
-
Indikator keberhasilan dan bentuk penilaian.
-
Jenis pengalaman belajar konkret yang akan diberikan (misalnya proyek sosial, simulasi, kunjungan lapangan, atau kegiatan praktik).
Perencanaan yang baik juga perlu mempertimbangkan bagaimana kegiatan bisa menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan tanggung jawab sosial siswa.
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, siswa mulai menjalani kegiatan nyata yang dirancang sebelumnya.
Guru berkolaborasi dalam mengarahkan, membimbing, serta memfasilitasi proses belajar.
Contoh penerapannya:
-
Siswa melakukan proyek lintas mata pelajaran seperti studi lapangan, simulasi sosial, atau market day.
-
Guru memfasilitasi eksplorasi, membantu siswa mengambil keputusan, dan memberikan umpan balik atas hasil kerja mereka.
-
Seluruh kegiatan dirancang agar siswa mengalami langsung masalah nyata dan belajar memecahkannya dengan pendekatan kolaboratif.
Keterlibatan guru yang aktif di setiap tahapan membuat pembelajaran menjadi lebih terarah dan bermakna.
3. Tahap Evaluasi dan Refleksi
Setelah kegiatan selesai, guru dan siswa bersama-sama melakukan refleksi.
Mereka meninjau kembali pengalaman yang sudah dijalani dan mengaitkannya dengan teori atau konsep pembelajaran dari berbagai mata pelajaran.
Guru juga melakukan evaluasi efektivitas kegiatan, menilai sejauh mana siswa memahami makna dari pengalaman tersebut, serta menentukan perbaikan untuk siklus pembelajaran berikutnya.
Tahap refleksi ini penting karena di sinilah siswa benar-benar memahami apa yang mereka pelajari dari pengalaman nyata, bukan hanya dari teori.
Contoh Kolaborasi Experiential Learning Antarguru
Salah satu bentuk nyata penerapan experiential learning adalah proyek kolaboratif lintas mata pelajaran.
Misalnya, proyek bertema “Menyelamatkan Lingkungan Sungai Lokal”:
-
Guru IPA memandu siswa melakukan observasi kualitas air dan mempelajari ekosistem sungai.
-
Guru Bahasa Indonesia membantu siswa menulis laporan observasi dan membuat kampanye publik.
-
Guru Matematika mengarahkan siswa menganalisis data polusi air.
-
Guru Seni membantu siswa membuat poster atau instalasi seni bertema lingkungan.
Hasilnya, siswa bukan hanya memahami teori dari setiap pelajaran, tetapi juga mengalami sendiri proses belajar yang kontekstual dan kolaboratif.
Versi Jawaban Cerita Reflektif: “Bagaimana Menerapkan Experiential Learning dalam Pembelajaran Bersama Guru Lain?”
Berikut beberapa versi contoh jawaban yang dapat dijadikan referensi:
Contoh Jawaban 1
Dalam menerapkan experiential learning, saya pernah berkolaborasi dengan rekan guru mengadakan proyek lintas mata pelajaran. Kami mengajak siswa mengamati permasalahan di lingkungan sekolah seperti kebersihan dan keaktifan belajar. Siswa terlibat langsung dalam pengamatan, menganalisis masalah, dan merancang solusi. Saya membantu proses refleksi melalui tugas tertulis. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa kolaborasi antarguru membuka ruang belajar yang lebih luas dan bermakna bagi siswa.
Contoh Jawaban 2
Saya dan beberapa guru menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui simulasi peran. Misalnya, siswa berpura-pura menjadi warga dalam rapat untuk mencari solusi masalah sederhana. Kegiatan ini dikembangkan bersama guru lain agar lebih hidup dan realistis. Masing-masing guru berkontribusi sesuai keahlian: ada yang memandu skenario, ada yang menilai refleksi siswa. Hasilnya, siswa lebih memahami nilai kerja sama dan empati.
Contoh Jawaban 3
Dalam kesempatan lain, kami mengajak siswa belajar di luar kelas melalui kunjungan ke tempat lokal yang relevan dengan tema pelajaran. Kegiatan ini dirancang lintas mata pelajaran agar saling terhubung. Setelah kegiatan, siswa menulis refleksi dan berdiskusi. Saya melihat siswa jauh lebih antusias dan mudah memahami materi karena berkaitan langsung dengan pengalaman mereka sendiri.
Kesimpulan
Menerapkan experiential learning bersama guru lain bukan sekadar berbagi tanggung jawab, tetapi tentang menciptakan pengalaman belajar yang utuh dan bermakna bagi siswa. Kolaborasi ini memperkuat keterampilan sosial-emosional, memperkaya proses belajar, serta membantu siswa memahami keterkaitan antarilmu dalam kehidupan nyata.
Dengan perencanaan matang, pelaksanaan kolaboratif, dan refleksi yang konsisten, experiential learning dapat menjadi jembatan antara teori dan praktik yang menghidupkan semangat belajar di kelas.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan Experiential Learning Menurut David Kolb? Ini Penjelasannya
Baca Juga: 3 Tahap dalam Pengalaman Belajar melalui Pendekatan Deep Learning
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan experiential learning?
Experiential learning adalah model pembelajaran berbasis pengalaman yang menekankan pada proses belajar melalui keterlibatan langsung siswa dalam aktivitas nyata. Siswa tidak hanya mendengar teori, tetapi juga mengalami, merefleksikan, dan menarik makna dari pengalaman tersebut.
2. Mengapa experiential learning penting diterapkan di sekolah?
Karena experiential learning membantu siswa memahami konsep secara mendalam melalui pengalaman langsung. Metode ini juga menumbuhkan rasa ingin tahu, tanggung jawab, empati, serta keterampilan sosial dan emosional yang sangat penting di dunia nyata.
3. Bagaimana cara guru menerapkan experiential learning bersama guru lain?
Guru dapat berkolaborasi lintas mata pelajaran untuk merancang proyek atau kegiatan berbasis pengalaman nyata. Misalnya melalui studi lapangan, simulasi sosial, atau proyek lingkungan yang menggabungkan teori dari beberapa pelajaran. Dengan kolaborasi ini, pembelajaran menjadi lebih utuh dan bermakna.
4. Apa langkah-langkah utama dalam penerapan experiential learning kolaboratif?
Ada tiga tahap penting yang harus dilakukan bersama guru lain:
-
Perencanaan – merancang pengalaman belajar yang relevan dan menentukan peran masing-masing guru.
-
Pelaksanaan – menjalankan kegiatan nyata seperti proyek, simulasi, atau kunjungan lapangan.
-
Evaluasi dan refleksi – menilai pengalaman siswa dan menarik makna dari kegiatan yang dilakukan.
5. Contoh kegiatan apa yang bisa digunakan dalam experiential learning bersama guru lain?
Beberapa contoh kegiatan antara lain:
-
Proyek kebersihan lingkungan sekolah.
-
Simulasi rapat warga atau pasar mini.
-
Kunjungan ke tempat lokal seperti museum atau sungai.
-
Aksi sosial seperti kampanye peduli lingkungan.
Kegiatan ini dapat menggabungkan berbagai mata pelajaran agar pembelajaran lebih kontekstual.
6. Apa manfaat kolaborasi antarguru dalam experiential learning?
Kolaborasi antarguru memperkaya pengalaman belajar siswa karena setiap guru membawa keahlian berbeda. Selain itu, kolaborasi membantu menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, relevan, dan menyeluruh. Guru juga bisa saling belajar dan memperkuat kompetensi profesional.
7. Bagaimana peran guru dalam experiential learning?
Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa selama proses belajar. Guru membantu siswa memahami tujuan kegiatan, memberikan arahan, mendampingi refleksi, dan membantu siswa mengaitkan pengalaman dengan teori pembelajaran.
8. Apa hubungan experiential learning dengan pembelajaran sosial emosional (PSE)?
Keduanya saling melengkapi. Melalui experiential learning, siswa belajar memahami emosi, bekerja sama, dan membangun empati—semua elemen utama dalam pembelajaran sosial emosional. Dengan begitu, siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.
9. Apa tantangan dalam menerapkan experiential learning bersama guru lain?
Beberapa tantangan yang umum dihadapi antara lain koordinasi jadwal antar guru, perbedaan pendekatan mengajar, dan kebutuhan waktu untuk perencanaan. Namun, tantangan ini bisa diatasi dengan komunikasi rutin dan perencanaan yang matang.
10. Bagaimana hasil pembelajaran jika experiential learning diterapkan dengan baik?
Siswa akan lebih aktif, kreatif, dan reflektif dalam belajar. Mereka tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan empati. Pembelajaran pun terasa lebih hidup dan relevan dengan kehidupan nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








