3 Tahap dalam Pengalaman Belajar melalui Pendekatan Deep Learning

AKURAT.CO Belajar di zaman sekarang bukan lagi sekadar menghafal materi pelajaran. Banyak penelitian dan kurikulum terbaru menekankan pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning), yaitu pendekatan belajar yang lebih fokus pada pemahaman, penerapan nyata, dan refleksi diri.
Menariknya, pengalaman belajar pada pendekatan pembelajaran mendalam memiliki tiga tahapan utama yang berjalan seperti siklus dan terus berulang. Ketiga proses tersebut adalah memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Siklus ini tidak hanya membuat pelajaran lebih bermakna, tapi juga menyiapkan siswa agar siap menghadapi tantangan kehidupan nyata.
Lantas, seperti apa tahapan-tahapan dalam pembelajaran mendalam ini dan mengapa penting untuk generasi muda saat ini? Mari kita bahas lebih lengkap.
Apa Itu Pembelajaran Mendalam?
Menurut salindia dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar, 2025), pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang menekankan pada keterhubungan antara teori dan praktik dengan melibatkan proses berpikir kritis, reflektif, serta kesadaran diri.
Berbeda dari model belajar konvensional yang menekankan hafalan, pendekatan ini lebih menekankan:
-
Kesadaran (mindful): siswa menyadari apa dan mengapa mereka belajar.
-
Makna (meaningful): materi yang dipelajari benar-benar terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.
-
Kegembiraan (joyful): proses belajar yang menyenangkan sehingga siswa lebih termotivasi.
Dalam kerangka ini, pengalaman belajar bukan sekadar soal materi, tetapi juga mencakup pengembangan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga seimbang secara emosional, sosial, dan fisik.
Tiga Tahapan Siklus dalam Pengalaman Belajar Mendalam
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, terdapat tiga proses tahapan utama dalam pembelajaran mendalam yang berjalan secara berulang: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
1. Memahami: Fondasi Awal dalam Belajar
Tahap pertama adalah memahami. Pada fase ini, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, melainkan aktif menggali pengetahuan dari berbagai sumber. Proses ini bisa berupa membaca, menganalisis, menyimak, hingga menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan lama.
Dalam tahap ini, ada tiga jenis pengetahuan yang dikembangkan:
-
Pengetahuan esensial (foundational knowledge): berisi konsep dasar, fakta, dan teori yang menjadi pijakan untuk belajar lebih lanjut.
-
Pengetahuan aplikatif (applied knowledge): kemampuan menghubungkan teori dengan kehidupan nyata.
-
Pengetahuan nilai dan karakter (humanistic knowledge): pembentukan moral, etika, dan sikap agar siswa tumbuh sebagai individu yang berintegritas dan bertanggung jawab.
Tahap memahami menjadi fondasi penting karena tanpa pemahaman yang kuat, siswa akan kesulitan saat diminta menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.
2. Mengaplikasi: Dari Pengetahuan ke Aksi
Setelah memahami, siswa masuk ke tahap mengaplikasi, yaitu mengubah pengetahuan menjadi praktik nyata. Inilah saat di mana belajar terasa paling hidup karena siswa tidak lagi hanya tahu, tetapi juga bisa melakukan.
Contohnya, siswa bisa mengerjakan proyek penelitian kecil, melakukan simulasi, memecahkan masalah di kelas, atau bahkan menghubungkan teori pelajaran dengan pengalaman sehari-hari.
Melalui tahap ini, siswa belajar untuk:
-
Melatih berpikir kritis dan kreatif.
-
Memperkuat pemahaman melalui praktik langsung.
-
Mengembangkan kemampuan problem solving yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Tahap mengaplikasi juga disebut sebagai extending knowledge karena memperluas wawasan sekaligus mempertajam analisis siswa.
3. Merefleksi: Kesadaran Diri dalam Belajar
Tahap terakhir adalah merefleksi. Inilah momen ketika siswa menengok kembali apa yang sudah dipelajari, mengevaluasi kekuatan dan kelemahan, serta merencanakan perbaikan untuk ke depannya.
Refleksi bukan sekadar mengingat kembali materi, melainkan juga melatih regulasi diri (self-regulation). Artinya, siswa belajar untuk:
-
Memahami tujuan pembelajaran.
-
Memantau progres belajar.
-
Menilai efektivitas strategi yang digunakan.
-
Menjadi lebih mandiri dalam mengatur proses belajarnya.
Dengan refleksi yang konsisten, siswa tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang lebih sadar arah, kritis, dan bertanggung jawab.
Kenapa Siklus Ini Penting untuk Generasi Muda?
Bagi anak muda usia 18–35 tahun, siklus memahami–mengaplikasi–merefleksi punya peran besar. Proses ini melatih kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning), keterampilan yang sangat penting di era cepat berubah seperti sekarang.
Dengan menerapkan siklus pembelajaran mendalam, seseorang tidak hanya berfokus pada hasil ujian, tetapi juga:
-
Lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.
-
Mampu menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata.
-
Memiliki karakter dan nilai yang kuat dalam berinteraksi sosial.
-
Meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Pendekatan ini membantu generasi muda untuk tidak hanya “pintar di atas kertas” tetapi juga mampu menghadapi realitas yang kompleks di luar ruang kelas.
Kesimpulan
Pengalaman belajar dengan pendekatan pembelajaran mendalam adalah sebuah siklus berulang yang terdiri dari memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Tiga tahap ini saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, karena bersama-sama membentuk fondasi belajar yang lebih bermakna, relevan, dan aplikatif.
Di era di mana tantangan terus berubah, pendekatan ini menjadi semakin penting. Bukan hanya agar siswa bisa menguasai teori, tetapi juga agar mereka siap menghadapi dunia nyata dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang matang.
Baca Juga: 9 Fakta Menarik Seputar Proklamasi Kemerdekaan 1945, dari Mesin Ketik hingga Bendera Pusaka
Baca Juga: Cara Mengumpulkan Data dalam Menulis Artikel Ilmiah Populer: Lengkap & Praktis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









