Siapakah Pengarang Kitab yang Terdapat Semboyan Bhinneka Tunggal Ika di Dalamnya? Inilah Sosok Tersebut Secara Akurat

AKURAT.CO Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu" merupakan salah satu pilar identitas bangsa Indonesia.
Semboyan ini diambil dari karya sastra klasik yang ditulis oleh seorang pujangga ternama pada abad ke-14, yaitu Mpu Tantular.
Karya tersebut, yang dikenal sebagai Kitab Sutasoma, tidak hanya mencerminkan nilai-nilai kebhinekaan, tetapi juga mengajarkan toleransi antaragama.
Artikel ini membahas lebih dalam tentang Mpu Tantular dan pengaruh karyanya.
Baca Juga: Bagaimana Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Mampu Berkontribusi bagi Pembangunan Nasional?
Siapa Mpu Tantular?
Mpu Tantular adalah seorang pujangga yang hidup pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, khususnya di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk.
Ia dikenal sebagai penulis beberapa karya sastra penting, termasuk Kakawin Sutasoma dan Kakawin Arjunawijaya.
Diperkirakan lahir pada abad ke-14, Mpu Tantular merupakan penganut Buddha yang terbuka terhadap ajaran Hindu.
Karyanya menggambarkan sinergi antara dua keyakinan tersebut.
Kitab Sutasoma dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Kitab Sutasoma ditulis dalam bentuk syair dan mengisahkan perjalanan Pangeran Sutasoma yang menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.
Dalam karya ini, Mpu Tantular menyampaikan ajaran moral dan nilai-nilai toleransi yang sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat Majapahit pada masa itu.
Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" muncul dalam pupuh 139 dari kitab ini, yang menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman.
Ungkapan tersebut kemudian diangkat menjadi semboyan resmi negara Republik Indonesia sebagai simbol kerukunan dalam perbedaan budaya, suku, dan agama.
Warisan Mpu Tantular
Meski informasi pribadi tentang Mpu Tantular tidak banyak ditemukan, warisan intelektualnya melalui Kitab Sutasoma tetap abadi.
Karya ini menjadi bagian penting dalam kajian sastra Indonesia dan pendidikan nasional.
Ajaran-ajarannya masih relevan hingga kini dalam konteks penguatan karakter kebangsaan dan penghargaan terhadap pluralitas.
Mpu Tantular adalah tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia melalui Kitab Sutasoma, yang melahirkan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".
Karya tersebut tidak hanya menanamkan semangat kebhinekaan, tetapi juga menjadi tonggak pemikiran toleransi yang relevan bagi bangsa Indonesia hingga saat ini.
Sosok Mpu Tantular dikenang bukan hanya sebagai pengarang, tetapi juga sebagai pelopor gagasan persatuan dalam keberagaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo








