AKURAT.CO Tidak semua remaja merasa nyaman untuk berbagi cerita dengan orang tua tentang kehidupan atau aktivitas sehari-harinya.
Rasa takut dihakimi, dimarahi, atau diberi nasihat panjang seringkali menjadi alasan utama mereka memilih untuk diam dan menyimpan masalah sendiri.
Agar anak, terutama remaja, mau lebih terbuka, kebiasaan untuk saling berbagi harus ditanamkan sejak dini.
Orang tua perlu membangun suasana komunikasi yang hangat dan aman, sehingga anak merasa nyaman untuk bercerita tanpa rasa takut atau tertekan.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua antara lain dengan rutin mengajak anak mengobrol setiap hari, menanyakan hal-hal ringan seperti kegiatan di sekolah, perasaan mereka hari itu, atau pengalaman menarik yang mereka alami.
Yang tak kalah penting, orang tua perlu belajar menjadi pendengar yang baik tanpa langsung menghakimi atau memberi solusi.
Melalui komunikasi yang terbuka dan empatik, hubungan antara orang tua dan anak akan menjadi lebih dekat, sehingga anak merasa aman untuk berbagi pikiran dan perasaannya.
Baca Juga: Dua Remaja Gugat Larangan Media Sosial di Australia: “Ini Seperti 1984!”
10 Cara Agar Anak Remaja Lebih Terbuka kepada Orang Tua
Membangun komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak remaja memang tidak selalu mudah.
Banyak remaja yang enggan bercerita karena takut dihakimi, dimarahi, atau merasa tidak dipahami.
Namun, dengan pendekatan yang tepat, hubungan yang terbuka dan penuh kepercayaan bisa terjalin dengan baik.
Berikut 10 cara yang dapat dilakukan orang tua agar anak remajanya lebih terbuka:
1. Ajukan Pertanyaan Spesifik
Hindari pertanyaan umum seperti “Gimana hari ini?” karena anak mungkin menjawab singkat. Cobalah bertanya lebih spesifik, misalnya, “Apa hal paling seru yang kamu lakukan di sekolah hari ini?” atau “Kamu makan apa di kantin tadi?” Pertanyaan seperti ini membuat anak lebih mudah untuk mulai bercerita.
2. Jangan Langsung Menginterogasi Anak
Saat anak pulang sekolah, beri mereka waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri sebelum diajak berbicara.
Hindari membombardir mereka dengan banyak pertanyaan sekaligus, karena bisa membuat anak merasa ditekan.
3. Luangkan Waktu di Malam Hari
Setelah makan malam, sempatkan waktu sekitar 10–15 menit untuk mengobrol santai atau melakukan aktivitas ringan bersama. Momen kecil seperti ini bisa mempererat hubungan dan membuka ruang komunikasi tanpa paksaan.
4. Jadilah Pendengar yang Baik
Anak remaja tidak selalu membutuhkan nasihat, terkadang mereka hanya ingin didengarkan.
Dengarkan dengan penuh perhatian tanpa langsung menilai atau memberi solusi. Respons yang tenang dan empatik akan membuat anak merasa lebih dipahami.
5. Ngobrol Saat di Dalam Mobil
Percakapan di mobil sering terasa lebih santai karena tidak harus saling menatap. Situasi ini bisa menjadi kesempatan emas untuk membicarakan hal-hal yang lebih pribadi tanpa membuat anak merasa canggung.
6. Adakan Pertemuan Khusus
Luangkan waktu khusus sebulan sekali untuk pergi bersama anak, entah makan di luar, menonton film, atau sekadar berjalan-jalan. Kegiatan ini membantu menciptakan ruang aman bagi anak untuk berbagi cerita.
7. Lakukan Aktivitas Bersama
Ajak anak melakukan kegiatan yang disukai, seperti bermain game, membaca buku, atau olahraga bersama. Melalui aktivitas ini, komunikasi bisa terbangun secara alami tanpa tekanan.
8. Tunjukkan Empati
Pahami perasaan anak dengan mencoba melihat dari sudut pandangnya. Saat mereka marah atau sedih, jangan langsung menilai atau meremehkan perasaan mereka.
Biarkan anak merasa bahwa emosinya valid dan diterima.
9. Hargai Cara Mereka Berkomunikasi
Setiap anak punya cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaan.
Ada yang suka berbicara langsung, ada juga yang lebih nyaman melalui chat atau kegiatan bersama.
Menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi anak akan membuat mereka lebih terbuka.
Baca Juga: Fakta-fakta Pengeroyokan Remaja Disabilitas di Karawang hingga Meninggal Dunia
10. Terlibat dalam Aktivitas yang Mereka Sukai
Tunjukkan ketertarikan tulus terhadap hal yang anak gemari.
Jika mereka suka musik, dengarkan lagu kesukaannya bersama.
Jika mereka suka olahraga, tonton pertandingannya. Keterlibatan seperti ini menumbuhkan rasa dekat dan kepercayaan antara anak dan orang tua.
Nadia Nur Anggraini (Magang)