Akurat

Mengenal 3 Gangguan Psikologis Setelah Melahirkan, Jangan Anggap Sepele

| 5 September 2023, 16:00 WIB
Mengenal 3 Gangguan Psikologis Setelah Melahirkan, Jangan Anggap Sepele

AKURAT.CO, Pernahkah kamu mendengar tentang gangguan psikologis setelah melahirkan? Gangguan psikologis atau sindrom setelah melahirkan adalah sebuah kondisi yang terjadi pada perempuan setelah melahirkan dan merasakan bahwa mereka cemas, marah, sendirian, takut, atau tidak mengasihi Si Kecil.

Gangguan psikologis setelah melahirkan memiliki 3 kategori dari ringan hingga berat. Bila sudah dititik berat, Bunda bisa saja sampai membunuh Si Kecil. Nah, untuk meminimalisir terjadinya gangguan psikologis yang bertambah parah, yuk kenali beberapa jenis gangguan psikologis setelah melahirkan.

Baca Juga: 8 Langkah Penanganan Anak ODD, Orang Tua Wajib Tahu

Jenis Gangguan Psikologis Setelah Melahirkan

Hingga kini, belum diketahui pasti penyebab utama terjadinya gangguan psikologis setelah melahirkan. Hanya saja, diketahui ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya gangguan ini, termasuk faktor hormonal, lingkungan, emosional, hingga faktor genetik. Jenis gangguan psikologis setelah melahirkan juga beragam, berikut beberapa di antaranya:

1. Baby Blues Syndrome

Istilah baby blues mungkin tak asing di telinga, karena ini merupakan gangguan jiwa ringan yang biasa terjadi selama 2 minggu hingga 1 bulan paska melahirkan. Pada kondisi ini Bunda mungkin merasa cemas, sedih, dan emosi terhadap diri sendiri dan Si Kecil.

Sekitar 40-80% wanita mengalami baby blues syndrome setelah melahirkan. Sebagian penderita baby blues juga merasa sulit membangun ikatan dengan bayinya.

Baby blues terjadi karena adanya perubahan hormone dalam tubuh yang ditambah dengan kelelahan fisik yang dialami setelah melahirkan. Gejala baby blues adalah sebagai berikut:

  • Tidak percaya diri
  • Tidak perduli terhadap Si Kecil
  • Cepat lelah dan mengalami pusing
  • Mudah menangis
  • Mudah marah dan kerap tersinggung yang berujujung kehilangan kesabaran
  • Merasa cemas yang berlebihan
  • Merasa tidak berharga

Meski ini merupakan hal yang wajar, jangan biarkan baby blues terus Bunda alami. Bila sudah mencapai lebih dari 2 minggu bahkan lebih dari 1 bulan. Bunda sebaiknya mendapatkan perhatian dan dukungan dari suami dan keluarga karena sudah perlu dikhawatirkan.

2. Postpartum Depression

Jika baby blues terjadi lebih dari dua minggu, maka bisa jadi yang dialami bukanlah baby blues, melainkan depresi pascamelahirkan atau postpartum depression. Gangguan psikologis setelah melahirkan ini memang memiliki gejala yang hampir sama dengan baby blues, namun jauh lebih berat.

Sebagian wanita yang mengalami depresi pascamelahirkan dapat memiliki rasa bersalah atau penyesalan yang mendalam. Penderita depresi pascamelahirkan sering kali tidak mampu mengurus dirinya sendiri, terlebih bayinya. Saat mengalami kondisi ini, kerap kali mereka juga tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

Postpartum depression terjadi karena kurangnya dukungan sosial kepada Bunda. Kenali gejala postpartum depression sebagai berikut, karena sudah memasuki tahap yang serius:

  • Merasa tertekan, sulit tidur, tak nafsu makan dan merasa tak mampu merawat Si Kecil.
  • Tak bergairah untuk beraktifitas, merasa tak berharga dan tak dapat berkonsentrasi.
  • Sakit kepala, nyeri dada, jantung berdetak cepat, mati rasa hingga sesak nafas.
  • Berpikiran untuk bunuh diri bahkan membunuh Si Kecil.

Jika Bunda mengalami depresi postpartum, kemampuan untuk merawat Si kecil akan berkurang. Bahkan, ketika seorang wanita mengalami postpartum depression tingkat berat, tak jarang mereka berkeinginan untuk bunuh diri.

Penanganan yang serius sangat dibutuhkan dalam kasus ini, karena bisa saja Bunda menyakiti diri sendiri dan Si Kecil.

3. Psikosis Pascamelahirkan

Gangguan kesehatan psikologis ini tergolong berat, dan dapat terjadi pada para ibu baru. Psikosis pascamelahirkan dapat terjadi dalam waktu yang cepat, umumnya sekitar tiga bulan pertama setelah melahirkan.

Contohnya seperti ibu yang melakukan mutilasi terhadap anaknya sendiri. Kenalilah gejalanya, karena banyaknya yang mengalami psikosis postpartum tak mengutarakan gejala yang mereka alami:

  • Sering berhalusinasi, seperti melihat bayi dalam bentuk yang lain
  • Sering mendengar bisikan untuk menyakiti bayi sendiri
  • Gangguan mood seperti depresi, bipolar, atau psikosis.
  • Sulit untuk tidur, agitasi, dan perubahan suasana hati secara tiba - tiba.

Jika Bunda mengalami gejala diatas, perlu memberitahukan apa yang dirasakan pada orang terdekat, karena sangat membutuhkan perawatan dan pengawasan yang ketat. Mengapa demikian? Karena psikosis postpartum merupakan gangguan jiwa yang datangnya tak bisa diprediksi dan secara tiba-tiba.

Untuk menangani psikosis pascapersalinan dokter mungkin akan memberikan obat antidepresan, antipsikotik, dan obat yang membantu menstabilkan suasana hati. Dokter perlu memberikan obat-obat tersebut dengan pertimbangan yang tepat, karena berisiko terserap ke dalam air susu ibu (ASI) yang akan diberikan pada bayi.

Gangguan psikologis setelah melahirkan tidak bisa disepelekan. Kenali gejalanya dengan baik, dan apabila timbul gejala-gejala yang mengganggu aktivitas, segera konsultasikan keluhan tersebut ke dokter.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.