APBN untuk Situasi Terburuk yang Mungkin Dihadapi

KALAU kita mengikuti secara seksama berbagai diskusi, opini dan laporan-laporan perkembangan Perang Amerika Serikat- Israel Versus Iran, hal umum yang mungkin jadi kesimpulan kita adalah Ketidakpastian (Uncertainty).
Lebih spesifik lagi, ketidakpastian ekonomi dunia dan juga domestik yang kian hari kian meningkat seiring dengan peningkatan ekskalasi perang di Timur-Tengah .
Perang yang pada mulanya dianggap akan berlangsung cepat, surgikal dan determinan, semakin hari semakin tidak mudah diperkirakan ujungnya. Prof. Robert A. Pane dari Universitas Chicago, menyebutnya sebagai “ jebakan ekskalasi “( Escalation Trap ).
Baca Juga: Ketum PERBANAS Hery Gunardi Beberkan Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
Lebih lanjut, teori “ jebakan ekskalasi” yang dikembangkan oleh Prof. Robert Pane, yang juga selama berpuluh tahun diajarkannya terutama di lingkungan militer Amerika Serikat, menjelaskan bahwa suatu perang sangat jarang berjalan sesuai rencana.
Apa yang mulanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa berlangsung cepat, presisi dan bisa dikontrol dan dapat mengubah musuh untuk merubah perilakunya atau menyerah.
Pada kenyataannya, sepanjang sejarah peperangan modern yang diamati oleh Prof. Pane, secara gradual terus melebar, makin melibatkan banyak aktor, dan pada akhirnya meningkatkan resiko diluar dari perkiraan yang direncanakan.
Kasus ini terutama sekali terjadi pada penggunaan masif kekuatan udara dalam menjalankan misi peperangan.
Dalam penjelasan yang lebih lanjut, menurut teori ini, suatu operasi pertempuran yang kurang berhasil dalam memaksa musuh untuk meyerah membuat pengambil kebijakan untuk meningkatkan ekskalasi penggunaan kekuatan untuk memaksa pihak musuh untuk segera “menyerah”.
Peningkatan ekskalasi diambil bukan karena pada pembacaan terhadap kelemahan strategis tapi lebih karena anggapan bahwa ekskalasi lebih besar diperlukan untuk mencapai tujuan yang direncanakan.
Pola ini kelihatannya nampak jelas sedang terjadi dalam Perang AS- Israel versus Iran.
Baca Juga: Prediksi Harga Emas 2026: Masih Jadi Safe Haven di Tengah Ketidakpastian Ekonomi?
Peningkatan ekskalasi Perang tersebut, nampaknya terus terjadi dan kian lama kian menyeret aktor-aktor lain yang pada dasarnya tidak terlibat justru makin terdampak dan terpapar resiko.
Tidak hanya negara-negara yang berada di kawasan peperangan, tapi juga melebar kepada negara-negara yang secara geografis sangat jauh dari wilayah konflik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







