Akurat Logo

INACRAFT 2026: Masa Depan Kriya Indonesia Lewat Perpaduan Tradisi dan Kemampuan Beradaptasi

Wahyu SK | 12 Oktober 2026, 14:09 WIB
INACRAFT 2026: Masa Depan Kriya Indonesia Lewat Perpaduan Tradisi dan Kemampuan Beradaptasi
INACRAFT 2026 diharapkan dapat membantu perajin Indonesia tumbuh lebih adaptif dan berdaya saing. - Foto: INACRAFT 2026

AKURAT.CO Produk kriya yang sarat nilai budaya tidak hanya menyimpan fungsi dan nilai estetika.

Di dalam setiap kriya terdapat pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, keterampilan tangan yang terbentuk selama bertahun-tahun, dan identitas budaya yang tidak dapat direplika oleh mesin.

Namun di tengah tuntutan zaman yang dinamis, ada pertanyaan yang lebih mendasar. Bagaimana tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter yang membuatnya istimewa?

Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi tema penyelenggaraan INACRAFT pada 7-11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Pameran yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bersama Mediatama Event ini mengangkat pertemuan antara warisan budaya, inovasi, dan teknologi sebagai bagian dari perkembangan industri kriya.

Baca Juga: INACRAFT 2026 Digelar di Jakarta, Angkat Peran Perempuan dalam Industri Kerajinan

Inovasi yang Memberi Ruang Lebih bagi Kreativitas

Sejumlah inovasi diperkenalkan dalam INACRAFT 2026 dengan menunjukan bahwa pendekatan teknologi dapat diterapkan ke dalam berbagai bentuk. Pada proses produksi misalnya, pengembangan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi kerja penenun.

Sementara dalam hal pengembangan material, pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan lilin batik turut membuka peluang eksplorasi bahan alternatif yang lebih beragam.

Inovasi juga hadir melalui pemanfaatan riset ilmiah untuk meningkatkan nilai tambah produk tradisional. Dalam sesi Craft Talk bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peneliti memperkenalkan pengembangan eco-wastra yakni pewarna alami yang bersumber dari tanaman seperti ketapang, secang, dan mangrove.

Turut hadir pula eksplorasi pemanfaatan polyester daur ulang dari limbah plastik untuk produk busana dan aksesori oleh jenama lokal, Fuguku. Material dari limbah dikombinasikan dengan teknologi digital printing, dan teknik jumputan untuk menghasilkan tekstur serta tampilan yang khas.

Rangkaian inovasi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam industri kriya bisa dieksplorasi ke dalam berbagai hal. Sebagai penyempurnaan alat kerja, hasil riset material, hingga cara baru mengolah bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK