Akurat Logo

Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Pidato di PBB, Syamsu Rizal: Bentuk Protes dan Kecam Israel

Ayu Rachmaningtyas | 25 September 2026, 13:10 WIB
Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Pidato di PBB, Syamsu Rizal: Bentuk Protes dan Kecam Israel
Kursi delegasi Indonesia yang kosong menyusul aksi "walk out" oleh delegasi Indonesia dan sejumlah negara lainnya sebagai protes terhadap Benjamin Netanyahu di Markas PBB, New York, Kamis (24/9/2026) waktu setempat. - ANTARA/Nabil Ihsan

AKURAT.CO Delegasi Indonesia walk out dari ruang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat, saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hendak menyampaikan pidato.

Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, mengatakan langkah tersebut merupakan sikap diplomatik yang tegas sebagai bentuk protes terhadap kebijakan dan tindakan Israel di Palestina, khususnya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza.

"Saya bangga dengan sikap delegasi Indonesia yang melakukan walk out saat Benjamin Netanyahu hendak berpidato. Sikap ini sudah sangat tepat dan menunjukkan bahwa Indonesia konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina serta menolak berbagai tindakan yang merugikan rakyat Palestina," ujar Syamsu Rizal, dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: Wali Kota New York Sebut Pidato Netanyahu di PBB Penuh "Kebohongan Tak Berdasar", Singgung Surat Penangkapan ICC

Dia menilai, tindakan walk out bukan sekadar tindakan simbolik, melainkan bentuk protes dan kecaman terhadap genosida yang dilakukan Israel di Gaza yang telah menimbulkan korban jiwa serta krisis kemanusiaan berkepanjangan.

"Walk out ini adalah bentuk protes dan kecaman terhadap genosida Israel terhadap Palestina, khususnya masyarakat Gaza. Dunia tidak boleh diam terhadap penderitaan rakyat Palestina," ucap pria yang akrab dipanggil Deng Ical ini.

Pihaknya juga mendorong negara-negara di dunia untuk memperkuat langkah diplomatik dan mekanisme hukum internasional, terhadap setiap dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional yang dilakukan Israel.

Berdasarkan data terkini per September 2026, jumlah korban tewas akibat serangan dan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza telah melampaui 74.000 jiwa, dengan sebagian besar korban merupakan anak-anak dan perempuan.

Baca Juga: Hubungan Trump dan Netanyahu Panas Dingin, JD Vance: Kepentingan AS Harus Diutamakan

Karena itu, dia mendorong agar semakin banyak negara harus berani mengecam dan mengambil langkah sesuai hukum internasional terhadap tindakan yang dilakukan Israel. "Jangan sampai hukum internasional hanya menjadi aturan di atas kertas," tegasnya.

Dia menekankan agar dukungan internasional terhadap kemerdekaan Palestina juga harus semakin diperkuat. Karenanya, Indonesia dirasa perlu untuk memainkan peran aktif dalam mendorong penyelesaian konflik secara adil, serta memperjuangkan hak rakyat Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.

"Negara-negara di dunia harus semakin banyak mendukung kemerdekaan Palestina. Pemerintah Indonesia juga harus terus konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Bagi Indonesia, kemerdekaan Palestina adalah harga mati," tambahnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.