Akurat Logo

Ada Pola di Balik Isu 'Rusuh Agustus Jilid II', Negara Harus Waspada

Putri Dinda Permata Sari | 24 Agustus 2026, 14:11 WIB
Ada Pola di Balik Isu 'Rusuh Agustus Jilid II', Negara Harus Waspada
Demo BEM UI di Bundaran HI. - Akurat.co

AKURAT.CO Isu potensi kerusuhan di Jakarta pada Agustus 2026 tidak bisa dianggap sepele. Ada pola produksi dan penyebaran narasi yang terus membangun persepsi seolah-olah kerusuhan akan kembali terjadi.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, meminta masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus mewaspadai pola penyebaran isu yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir, khususnya melalui media sosial.

"Kalau kita melihat perkembangan isu ini sejak beberapa bulan terakhir, memang terdapat pola yang mengarah pada upaya membangun dan mengkonsolidasikan emosi publik melalui media sosial," kata Iwan saat dihubungi Akurat.co, Senin (24/8/2026).

Baca Juga: Rencana Demo 27 Agustus, GP Al Washliyah Jakarta Tolak Upaya Provokasi dan Adu Domba Masyarakat

Dia menyoroti narasi "Rusuh Agustus Jilid II" yang menurutnya tidak muncul secara tiba-tiba. Narasi tersebut dinilai terus diproduksi, diulang, dan diperbesar melalui sejumlah akun serta jaringan buzzer.

"Narasi mengenai 'Rusuh Agustus Jilid II' tidak muncul begitu saja, tetapi terus diproduksi, diulang dan diperbesar melalui berbagai akun serta jaringan buzzer. Ini yang perlu menjadi perhatian," ujarnya.

Menurutnya, pola penyebaran narasi, pemilihan momentum, penggunaan isu sensitif, hingga pembentukan persepsi bahwa kerusuhan merupakan sesuatu yang pasti terjadi dapat menjadi indikasi adanya kepentingan tertentu.

Namun, dia mengingatkan agar indikasi tersebut tidak serta-merta diarahkan kepada individu atau kelompok tertentu tanpa bukti hukum yang kuat.

"Secara akademis, dari pola penyebaran narasi, momentum yang dipilih, penggunaan isu yang sensitif, hingga upaya membangun persepsi seolah-olah kerusuhan sudah pasti terjadi, kita bisa membaca adanya indikasi agenda atau kepentingan dari pihak-pihak tertentu," jelasnya.

Iwan menilai, persoalan yang lebih berbahaya justru ketika rumor di media sosial berhasil memengaruhi kondisi nyata di masyarakat. Menurutnya, isu kerusuhan yang terus diulang dapat menciptakan ketakutan, kepanikan, hingga tindakan provokatif.

Baca Juga: Beredar Ajakan Demo 27 Agustus, Bamus Betawi: Sama-sama Kita Jaga Jakarta

"Saat ini isu kerusuhan jauh lebih massif di media sosial dibandingkan fakta di lapangan. Karena itu, jangan sampai rumor di media sosial justru menciptakan ketakutan, kepanikan, aksi provokatif, atau tindakan yang akhirnya menjadi self-fulfilling prophecy," katanya.

Karena itu, dia meminta masyarakat tidak menjadi korban perang informasi dengan mempercayai ataupun menyebarluaskan konten yang sumbernya tidak jelas. Iwan juga mendorong aparat meningkatkan pemantauan terhadap akun, jaringan, dan pola penyebaran konten provokatif. 

Menurutnya, kewaspadaan negara tetap dibutuhkan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pihak yang sengaja memperbesar keresahan. Namun, langkah tersebut harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketenangan masyarakat.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.