Penyakit Hati Mengintai Tanpa Gejala, Menkes Ajak Masyarakat Rutin Deteksi Dini Lewat CKG

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hati kronis, melalui perluasan skrining dan deteksi dini di masyarakat. Langkah ini penting mengingat penyakit hati kronis masih menjadi tantangan kesehatan yang besar di Indonesia.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan sekitar 70 juta penduduk Indonesia mengalami penyakit hati. Bahkan secara global, penyakit hati kronis menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun.
Lebih dari separuh kematian tersebut berkaitan dengan infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C, yang sering kali tidak terdeteksi hingga memasuki stadium lanjut.
Baca Juga: Gojek-Kemenkes Kerja Sama Fasilitasi Cek Kesehatan Gratis untuk Mitra Driver di 17 Kota
Penyakit hati merupakan ancaman serius karena berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah mengalami sirosis atau kanker hati.
"Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif. Kerja di area pencegahan jauh lebih murah dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pengobatan pada tahap lanjut," kata Budi, dikutip Rabu (3/6/2026).
Dia menekankan bahwa deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen, masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen mendapatkan pengobatan.
"Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut," ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, skrining penyakit hati telah diintegrasikan ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi deteksi Hepatitis B melalui HBsAg serta penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah.
Baca Juga: WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Kemenkes Perketat Pengawasan dan Minta Masyarakat Waspada
Selain memperluas deteksi dini, pemerintah juga terus memperkuat upaya pencegahan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian profilaksis antivirus bagi ibu hamil dengan Hepatitis B untuk mencegah penularan ke bayi.
Kemudian penerapan kebijakan Nutri-Level mulai 2026 guna membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik.
Pihaknya pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis di fasilitas kesehatan tingkat pertama, dan menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan untuk menjaga kesehatan. Karena ketahuan lebih awal, peluang sembuh jauh lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan







