Dua Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Evaluasi Misi Perdamaian

AKURAT.CO Dua prajurit TNI gugur saat menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Peristiwa ini mendorong DPR RI untuk meminta evaluasi menyeluruh terhadap penugasan pasukan Indonesia di wilayah konflik tersebut.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya dua prajurit, yang terdiri dari satu perwira dan satu bintara.
“Dengan hati yang amat berat, saya menyampaikan belasungkawa. Dua prajurit TNI gugur akibat ranjau, dan saat proses evakuasi mereka juga mendapat serangan bersenjata,” ujar Dave di Kompleks DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Evaluasi Penugasan
Dave menegaskan bahwa meski risiko menjadi bagian dari tugas prajurit, pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap keberadaan pasukan di wilayah konflik.
Menurutnya, misi TNI di Lebanon adalah menjaga perdamaian, bukan terlibat dalam pertempuran aktif.
“Mereka ditugaskan untuk menjaga perdamaian, bukan untuk bertempur. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan risiko yang semakin tinggi,” katanya.
Dave menyebut, rencana rotasi pasukan pada Mei mendatang perlu dikaji ulang. Ia mengusulkan sejumlah opsi, mulai dari pengurangan jumlah personel hingga perubahan pola operasi.
“Apakah jumlah pasukan dikurangi atau operasinya dibatasi hanya di dalam markas, ini perlu dipetakan ulang oleh Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan,” jelasnya.
Baca Juga: Dasco dan Raffi Ahmad Hadiri Rakernas PAN 2026, Tegaskan Soliditas Koalisi
Saat ini, total pasukan perdamaian di wilayah tersebut mencapai sekitar 5.000 personel, dengan sekitar 800 di antaranya berasal dari Indonesia.
Jika situasi dinilai tidak aman, Dave juga membuka kemungkinan penghentian sementara operasi.
“Kalau memang tidak bisa dinyatakan aman, sebaiknya operasi dihentikan terlebih dahulu sampai situasi benar-benar kondusif dan misi diredefinisi ulang,” ujarnya.
Dave menilai situasi keamanan semakin memburuk akibat konflik antara Israel dan Hizbullah yang masih berlangsung.
Ia meminta adanya ketegasan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta pihak terkait untuk menjamin keselamatan pasukan perdamaian.
“Kalau perang masih berkecamuk dan sudah menewaskan prajurit kita, harus ada ketegasan, baik dari PBB maupun Mabes TNI,” tegasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan tingginya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian, sekaligus mendorong perlunya peninjauan ulang strategi penugasan di wilayah konflik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 8Prediksi Prancis vs Italia 3 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat









