Perkuat Peran Perpustakaan dalam Budaya Membaca di Tengah Disrupsi AI

AKURAT.CO Perpustakaan memiliki peran sangat penting, salah satunya dalam budaya membaca di Indonesia.
Peran pustakawan dalam menumbuhkan budaya membaca, terutama di tengah tantangan digitalisasi dan penetrasi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) yang semakin dalam.
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, mengatakan, tantangan pustakawan di era digital saat ini justru semakin berat, untuk meningkatkan budaya membaca.
Dia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap fenomena mindless scrolling dan paparan layar (screen time) berlebihan yang dapat melemahkan daya pikir kritis anak-anak.
Baca Juga: 400 Siswa SMP di Buleleng Tak Bisa Membaca, Pemerintah Harus Perbaiki Data Literasi
"Kita harus jauhkan anak-anak kita, cucu-cucu kita untuk tidak terjebak dengan screen time yang terlalu lama. Jangan mentradisikan kepada anak-anak kita mindless scrolling," ujar Pratikno, dalam keterangannya, Sabtu (17/5/2025).
Saat ini, kata dia, adanya disrupsi teknologi dan AI membuat kita bisa mengakses informasi dengan mudah.
Akan tetapi informasi yang dihasilkan tidak utuh dan sepotong-sepotong.
Hal ini bila tidak didukung dengan daya kritis akan menimbulkan masalah yang serius.
Baca Juga: Program MBG Bikin Anak Makin Pintar Membaca dan Matematika, Ini Penjelasan Hamdan Hamedan
"Betapa AI itu mengerikan. Ini tantangan besar yang dihadapi oleh pustakawan oleh kita para pendidik. Kita bisa memanfaatkan media AI itu sebagai literasi," ungkap Pratikno.
Menurutnya, literasi hari ini bukan hanya terkait kemampuan membaca, melainkan tentang kemampuan berpikir kritis, mendalam dan bijaksana dalam menyikapi teknologi.
"Mari kita ajari anak kita untuk berpikir lebih dalam agar punya sikap kritis menghadapi disrupsi teknologi yang begitu dahsyat," katanya.
Pratikno juga menjelaskan inisiatif Kemenko PMK yang membuat gerakan komunitas Cerdas dan Bijak Ber-AI (Cabai), yang mendorong pemanfaatan AI secara arif dengan fondasi berpikir kritis.
Baca Juga: Sisakan Momen Membaca Buku Bersama Anak, Ini Manfaatnya!
"Karena pada akhirnya yang akan survive ke depan bukan hanya orang yang memanfaatkan teknologi tetapi yang mengendalikan teknologi. Nalar kita sebagian besar telah diambil oleh AI. Tetapi bijak, arif dan religiusitas. Itu yang akan menjaga kita menghadapi disrupsi AI," jelasnya.
Tantangan pustakawan di era digital semakin berat, sehingga perlu kolaborasi lintas sektor dalam mendorong literasi di tengah terpaan disrupsi teknologi.
"Mari kita bangun jejaring yang kuat, ajak civil society dan lembaga pendidikan bersama-sama bergerak. Literasi adalah jalan untuk membangun manusia Indonesia yang unggul, berpikir lebih dalam, dan mampu melangkah maju," ujarnya.
Pratikno membagikan pengalamannya saat masa kecil yang terinspirasi oleh dua buku yang dibacanya ketika duduk di bangku SD, yaitu buku berjudul Nrimo Peparinge Pangeran yang mengajarkannya untuk bersyukur dan menerima segala pemberian Tuhan.
Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Anak yang Lambat Membaca, Nomor 6 Paling Penting
Serta buku Timba Air Mandi Sendiri yang menumbuhkan semangat kemandirian dan memotivasinya untuk terus bersekolah di tengah keterbatasan.
"Buku bukan hanya transfer pengetahuan, buku adalah sumber inspirasi. Buku mendorong anak-anak kita untuk melakukan refleksi dan menentukan langkah," tuturnya.
Sebelumnya, Menko PMK menyampaikan apresiasi kepada Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan seluruh pustakawan di Indonesia atas dedikasi dan perjuangan dalam memperkuat literasi.
"Terutama sekali kepada bapak ibu para relawan yang melampaui kewajibannya, yang aktif untuk perpustakaan keliling, bekerja tanpa gaji. Mereka adalah pahlawan literasi nasional," ujarnya.
Baca Juga: Jarang Diketahui! Ini 7 Manfaat Membaca Buku Setiap Hari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








