Komisi IX DPR Dukung Revisi Aturan Kerja: Negara Harus Hadir Lindungi Buruh

AKURAT.CO Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Edy Wuryanto, menegaskan dukungannya terhadap revisi PP Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
Ia menilai aturan tersebut menciptakan ketidakpastian kerja dan melemahkan posisi buruh.
"Ketidakjelasan antara hak dan kewajiban dalam PP itu mempersempit ruang buruh untuk memperjuangkan nasibnya. Akibatnya, para buruh hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan akan PHK sewaktu-waktu," ujar Edy, Jumat (2/5/2025).
Edy menegaskan, buruh bukan sekadar roda penggerak ekonomi, melainkan manusia yang berhak atas kehidupan layak, pekerjaan manusiawi, dan perlindungan sosial.
Ia juga mengkritisi praktik outsourcing yang kini justru sering menjadi alat ketidakadilan.
"Outsourcing yang awalnya dimaksudkan untuk efisiensi, kini melemahkan perlindungan sosial dan menekan upah pekerja. Buruh outsourcing bekerja setara, tapi menerima hak yang lebih kecil. Ini menciptakan ketimpangan struktural yang melemahkan martabat pekerja," tegas Edy.
Baca Juga: Volkswagen Indonesia Hidupkan Semangat 'New Buzz In Life’ Lewat Lagu Bahagia di Ujung Jalan
Menghadapi ancaman meningkatnya angka PHK akibat perlambatan ekonomi, Edy mendorong pembentukan Satgas PHK untuk memberikan bantuan kepada korban dan melakukan langkah preventif.
"Banyak perusahaan padat karya tengah mengalami masa sulit. Pemerintah harus turun tangan. Jika dibiarkan, bukan hanya buruh yang terdampak, tapi juga masyarakat sekitar yang bergantung pada roda ekonomi tersebut," jelasnya.
Edy juga mendorong percepatan pembahasan RUU Ketenagakerjaan, sebagai bentuk tanggung jawab DPR terhadap putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat.
"Kementerian Tenaga Kerja harus kooperatif. Perbaikan ini penting untuk mengembalikan kepercayaan publik dan melindungi jutaan pekerja dari kebijakan yang berpihak pada investasi tapi menindas hak dasar buruh," katanya.
Tak hanya itu, Edy juga menyatakan dukungannya terhadap RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), mengingat besarnya kontribusi pekerja rumah tangga, yang mayoritas perempuan, terhadap ekonomi rumah tangga kelas menengah dan atas.
"Tidak ada alasan lagi untuk menunda pengesahan RUU ini," tegas Edy.
Dalam semangat keadilan sosial, Edy mendesak perluasan cakupan jaminan sosial bagi pekerja informal dan rentan, meliputi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Baca Juga: Apple Tidak Benar-Benar Minta Pengguna iPhone Hapus Chrome, Ini Faktanya
"Negara harus hadir bukan hanya demi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk melindungi rakyat dari ketimpangan dan ketidakadilan," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 3Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 6Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian








