Belum Ada Laporan Kasus Bakteri Pemakan Daging di Indonesia

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa di Indonesia sejauh ini belum ada laporan kasus bakteri pemakan daging yang sedang melanda Jepang.
Kabiro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan, Jepang sedang dilanda infeksi sindrom syok toksik streptokokus (STSS) yang disebabkan bakteri Streptococcus pyogenes kelompok A.
STSS di Jepang telah melampaui 1.000 kasus dan menjadi perhatian global.
Menurut Nadia, bakteri ini dijuluki "pemakan daging" karena dapat menghancurkan kulit, lemak dan jaringan di sekitar otot dalam waktu singkat.
Baca Juga: Sumardji: Saya Yakin Shin Tae-yong Tanda Tangan Perpanjangan Kontrak Sebelum 30 Juni
Adapun, penularan STSS terjadi melalui pernapasan dan droplet, yaitu percikan ludah atau lendir dari penderita.
Meski belum ada laporan, Kemenkes terus memantau situasi melalui surveilans sentinel Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dan pemeriksaan genomik.
Kasus STSS yang dilaporkan di Jepang, umumnya kasus di rumah sakit yang disebabkan bakteri streptokokus yang biasanya muncul dengan gejala faringitis atau peradangan pada tenggorokan atau faring.
Nadia menyebut bahwa infeksi STSS bisa berakibat fatal, karena pasien dapat mengalami sepsis dan gagal multiorgan.
Baca Juga: Sinergi Ulama dan Umara Penting Bangun Kesepahaman dalam Membendung Ideologi Transnasional
Akan tetapi penyebabnya secara pasti masih belum diketahui, karena gejala STSS biasanya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat.
Jepang telah melaporkan kasus infeksi streptokokus dalam sistem notifikasi surveilans sejak 1999.
Pada 2023, terdapat 941 kasus dan angka ini meningkat menjadi 977 pada Juni 2024.
Meski mengkhawatirkan, tingkat penyebaran STSS jauh lebih rendah dibandingkan dengan Covid-19.
Baca Juga: Dituding Selingkuh, Anji Enggak Akan Buka Komunikasi dengan Sexy Goath
Masyarakat diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup sehat, menggunakan masker saat sakit dan membiasakan mencuci tangan secara rutin.
"Yang paling penting saat ini, kebiasaan baik yang sudah terbentuk di masa pandemi Covid-19 terus dijalankan seperti cuci tangan pakai sabun dan memakai masker. Sehingga meminimalisir perpindahan droplet lewat pernafasan," jelas Nadia, dalam keterangan yang diterima Jumat (28/6/2024).
Ia mengatakan, hingga saat ini, tidak ada pembatasan perjalanan dari dan ke Jepang terkait dengan STSS.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait peningkatan kasus iGAS atau invasive Group A Streptococcal disease, termasuk STSS, di Eropa pada Desember 2022, tidak ada rekomendasi pembatasan perjalanan ke negara-negara yang terdampak.
Baca Juga: Berpotensi Konflik, Kampanye Pilkada 2024 Harus Diatur Ulang
Adapun, pengobatan STSS dilakukan dengan pemberian antibiotik.
Sebab, hingga saat ini, belum ada vaksin khusus untuk mencegah infeksi bakteri ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








