Mahfud MD Sebut Bobroknya Pemerintah dan Intelektual Berpengaruh Terhadap Rakyat

AKURAT.CO Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengingatkan pesan dari Imam Al Ghazali tentang pentingnya rakyat, pemerintah dan kaum intelektual tertib jika ingin sebuah negara itu baik.
Ia menekankan, rakyat yang rusak bisa disebabkan pemerintah atau intelektual yang rusak.
"Di berbagai negara itu rusaknya rakyat itu mula-mula disebabkan rusaknya pemerintah, munculnya pemerintahan yang sewenang wenang dan tidak adil, rakyat rusak, coba kalau pemerintahnya adil, tidak sewenang-wenang, rakyat tentram," kata Mahfud dalam podcast Terus Terang Mahfud MD yang tayang di kanal YouTube Mahfud MD Official, dikutip Selasa (18/06/2024).
Menkopolhukam periode 2019-2024 itu menuturkan, kalau pemerintah bersikap tidak adil akibatnya akan timbul kerusakan di tengah masyarakat. Namun, Mahfud menyampaikan, pemerintah bisa rusak kalau kaum intelektual, ulama, ilmuwan atau cendekiawan rusak.
Contohnya, ulama-ulama atau intelektual-intelektual yang suka memberi fatwa pesanan atau survei bayaran. Bagi Mahfud, survei sendiri itu bagus. Bahkan, ketika survei sempat dilarang lewat UU dan diuji ke MK, Mahfud pula yang memutus kalau survei dibolehkan.
"Oleh sebab itu, boleh survei, boleh quick count, saya yang memutuskan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 9 Tahun 2009. Ketika survei dilarang, saya yang katakan penting itu survei sesuai Pasal 28 F Undang-Undang (UU) Informasi dan Keterbukaan Publik, tapi survei harus bertanggung jawab juga karena itu produk ilmiah," ujar Mahfud.
Baca Juga: Segera Padankan NIK
Ini berlaku pula bagi kaum intelektual seperti ulama. Mahfud menekankan, pemerintah yang meminta pembenaran kepada ulama dengan cara-cara palsu, membuat fatwa palsu dengan bayaran membuat kehadiran ulama itu pada akhirnya menjadi penyebab kerusakan negara.
"Sehingga, disebut ulama itu rusak, cendekiawan rusak, ilmuwan rusak karena mereka cinta kedudukan dan harta, cinta mendapat citra baik sebagai ilmuwan, sebagai ulama dan sebagainya. Itu yang menyebabkan negara itu tidak baik," beber Mahfud.
Ia pun mengingatkan, Idul Adha bisa pula dimaknai sebagai cara-cara kita membangun Indonesia yang dibangun dengan kebaikan. Lalu, membangun prasyarat kebaikan bagi rakyat, bagi pemerintah dan bagi intelektual.
Kadang, Mahfud berpendapat, rakyat rusak tidak bisa disalahkan karena menjadi dampak dari rusaknya pemerintah dan rusaknya intelektual. Pemerintah rusak karena intelektual yang memberi pembenaran dan memberi informasi sepihak tanpa memikirkan bahayanya.
"Padahal, kalau dalam kita beragama dalilnya usul fiqh, menghindari kerusakan itu harus didahulukan daripada meraih kebaikan. Jadi, kalau kita menjaga lingkungan hitung dulu dong kerusakannya," ujar Mahfud.
Sayangnya, hari ini dalam pemerintahan kerap terjadi mereka menjadikan intelektual untuk mencari pembenaran. Misalnya, ketika ingin mengeksploitasi satu daerah mereka malah membayar intelektual untuk membuat hukumnya, membuat analisis datanya dan lain-lain.
"Kan rusak, itulah sebabnya pemerintah menjadi rusak. Ilmuwan rusak karena senang uang dan kedudukan yang dipuji orang, ilmuwan rusak, pemerintah rusak, rakyatnya jadi kacau balau," pungkas Mahfud.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









