Bullying di Binus Internasional School Serpong, Psikolog: Seolah Dibiarkan, Belum Ditangani dengan Baik

AKURAT.CO Perundungan atau tindakan bullying kembali terjadi di sekolah, kini terjadi di Binus Internasional School Serpong.
Perundungan ini melibatkan putra Vincent Rompies yakni Farrel Legolas Rompies. Adapun pihak sekolah telah mengkonfirmasi keterlibatan itu.
Peneliti Psikologi Sosial Universitas Indonesia, Wawan Kurniawan, mengatakan, perundungan memang belum ditangani dengan baik oleh berbagai pihak.
“Secara umum, perundungan belum ditangani dengan baik oleh berbagai pihak. Bahkan ini telah menjadi hal yang dibiarkan berlangsung dan hanya direspons jika dampak yang ditimbulkan mulai besar,” kata Wawan ketika dihubungi Akurat.co, Senin (19/2/2024).
Diungkapkannya, sedari awal, hal ini bisa dicegah dengan memberikan atau mengatur regulasi yang jelas, serta pendidikan yang memadai terkait perilaku perundungan.
Kemudian, sekolah diharapkannya harus lebih aktif bukan hanya pasif dan terus bekerja saat ada laporan terjadi.
Baca Juga: KPU Bantah Tuduhan Sirekap Dihentikan: Yang Belum Sinkron Tidak Ditayangkan Dulu
Lebih lanjut, Wawan menganggap bahwa peran sekolah di Indonesia ini memang belum berfungsi dengan baik. Hal ini juga berlaku dengan orang tua sebagai pendidikan pertama bagi anak-anak.
“Adapun orang tua sebagai pendidikan pertama juga perlu menanamkan nilai-nilai yang bisa menghindari anaknya untuk berbuat perilaku buruk,” jelasnya.
Wawan menuturkan, fenomena perundungan yang dilakukan kalangan tinggi seperti anak artis, terjadi karena anak tersebut merasa punya power lebih dengan status sosial yang lebih tinggi juga.
Baca Juga: Tamara Akui Dante Sempat Trauma Berenang: Dia Sempat Takut Air
“Jika itu tidak dibarengi dengan nilai-nilai yang semestinya (sikap saling menghargai, empati, rasa peduli), tentu akan jadi hal yang mengerikan. Mereka bisa bertindak sesukanya tanpa peduli dengan akibat yang ditimbulkan,” tuturnya.
Selanjutnya, Wawan menyebutkan bahwa Kemendikbud sebenarnya sudah membuat berbagai program atau rancangan untuk mengatasi hal ini.
“Seperti merdeka belajar, guru penggerak, sekolah penggerak, hanya saja memang belum optimal dan masih berproses,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










