AKURAT.CO Ketika senja jatuh di utara Jakarta, kawasan Batavia PIK berubah menjadi panggung terbuka yang memesona.
Langit jingga memayungi dua pulau—Golf Island dan Riverwalk Island—yang terhubung oleh kanal, menjadi saksi pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Di sinilah, pertunjukan budaya bernuansa historis seperti Batavia Tales dan Dancing Water Fountain Show hadir, bukan sekadar sebagai tontonan, tapi pengalaman lintas waktu yang menyentuh.
Sore itu, para pengunjung mulai berdatangan dan memadati Alun-alun Batavia. Tak ada dinding teater atau kursi beludru, hanya angin malam dan langit terbuka yang menjadi atap kisah.
Batavia Tales, musikal yang berlatar Batavia abad ke-19, membentangkan kisah cinta, perjuangan, dan persilangan budaya.
Delapan karakter, empat episode, satu cerita utuh. Di bawah arahan Mhyajo, sang sutradara sekaligus penulis naskah, kisah Ahmad Rahman Marzuki dan Mei Lian Kang—dua tokoh dari latar dunia berbeda—disampaikan melalui tarian, musik, dan dialog yang memikat.
“Kami ingin penonton bukan hanya menyaksikan cerita, tapi ikut merasakannya,” ujar Mhyajo dalam penjelasan sebelumnya.
Saat tepuk tangan mereda, penonton tak langsung meninggalkan tempat. Mereka berjalan menuju jembatan kayu di atas kanal yang menyerupai Jembatan Kota Intan dalam versi modern.
Baca Juga: Link Pendaftaran SPMB Jabar 2025 SMA dan SMK, Lengkap dengan Jadwalnya!
Dari kejauhan, musik klasik mulai terdengar, air menyembur membentuk lengkungan, menari mengikuti irama, dan berpadu dengan cahaya warna-warni yang membelah gelapnya malam.
Pertunjukan Dancing Water Fountain menjadi atraksi lanjutan yang tak kalah magis. Disebut sebagai salah satu atraksi air menari terbesar dan terpanjang di Asia, pertunjukan ini berdurasi sekitar sepuluh menit setiap sesinya.
Penonton bisa menyaksikannya dari atas jembatan atau dari perahu Batavia Canal Boat yang mengapung pelan di kanal, menciptakan suasana romantis dan tak terlupakan.
Namun Batavia PIK tidak hanya tentang pertunjukan. Kawasan ini adalah pertemuan budaya dan cita rasa.
Di satu sisi, Pasar Rakjat menyuguhkan aneka jajanan legendaris Indonesia seperti kerak telor dan soto betawi.
Di sisi lain, deretan restoran internasional seperti Dewata by Monsieur Spoon, Orasa’s, hingga Saigon Ngon menawarkan sajian global dengan nuansa tropis.
Kenyamanan juga menjadi perhatian utama. Dengan desain kawasan yang ramah pejalan kaki, pengunjung dapat menjelajah dari satu titik ke titik lain dengan mudah.
Mushola, toilet bersih, serta hotel-hotel yang siap menyambut tamu menambah daya tarik kawasan ini.
Berjarak hanya lima belas menit dari Bandara Soekarno-Hatta, Batavia PIK kini menjadi destinasi budaya malam yang bukan hanya disukai warga Jakarta, tetapi juga wisatawan dari berbagai negara.
Baca Juga: UPDATE! Kode Redeem FF Terbaru Masih Aktif 3 Juni 2025, Klaim Sekarang Auto Booyah
Dalam setiap pertunjukannya, kawasan ini mengajak siapa pun untuk larut dalam cerita, menjadi bagian dari semesta yang terus hidup dan bercerita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang










