Akurat Logo

Didorong Utang Pemerintah, ULN RI Naik ke USD459,3 Miliar di Agustus 2026

Esha Tri Wahyuni | 15 Oktober 2026, 16:50 WIB
Didorong Utang Pemerintah, ULN RI Naik ke USD459,3 Miliar di Agustus 2026
Ilustrasi ULN RI naik di agustus 2026

AKURAT.CO Utang luar negeri Indonesia mencapai USD459,3 miliar pada Agustus 2026, tumbuh 5,6% secara tahunan. ULN swasta turun 0,8% dan rasio terhadap PDB 30,9%.

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai USD459,3 miliar pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 5,6% secara tahunan (year on year/yoy), meski utang luar negeri swasta justru mengalami penurunan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso melaporkan, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 30,9%. Kenaikan ULN nasional terutama dipengaruhi peningkatan utang sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi ULN swasta.

Baca Juga: ULN Indonesia Juli 2026 Tembus USD454,8 Miliar, Naik 4,9 Persen

“Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 tetap terjaga,” kata dalam tertulis, Kamis (15/10/2026).

Secara terperinci, ULN pemerintah tercatat sebesar USD220,9 miliar pada Agustus 2026. Posisi tersebut tumbuh 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BI menjelaskan, perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Pemerintah juga berkomitmen menjaga kredibilitas pengelolaan utang melalui pemenuhan kewajiban pembayaran pokok dan bunga secara tepat waktu. Pengelolaan ULN dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, terukur, dan fleksibel agar pembiayaan dapat berjalan efisien.

Pemanfaatan ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif. Berdasarkan penggunaannya, porsi terbesar disalurkan ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22% dari total ULN pemerintah.

Berikutnya, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib menyumbang 20,7%. Sektor jasa pendidikan mencapai 16,2%, konstruksi 11,4%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5%.

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong kenaikan kepemilikan nonresiden pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perkembangan tersebut sejalan dengan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.