Akurat Logo

Manufaktur dan Penjualan Mobil Ekspansif, Sinyal Ekonomi RI Mulai Menguat?

Yosi Winosa | 1 Oktober 2026, 17:17 WIB
Manufaktur dan Penjualan Mobil Ekspansif, Sinyal Ekonomi RI Mulai Menguat?
Ilustrasi penjualan mobil meningkat

AKURAT.CO Sinyal pemulihan ekonomi Indonesia semakin terlihat pada September 2026. Aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi, konsumsi domestik tetap terjaga, sementara neraca perdagangan masih mencatat surplus di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia menjadi salah satu sinyal utama. PMI meningkat menjadi 52,4 pada September 2026, berbalik dari kontraksi 49,8 pada Agustus. Level tersebut sekaligus menunjukkan perbaikan kondisi bisnis manufaktur terkuat sejak Februari 2026.

Elang Tomi Ariefianto, Plt. Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan DJSEF Kemenkeu mengatakan penguatan tidak hanya terjadi pada produksi. Permintaan juga membaik, termasuk ekspor yang mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Baca Juga: Produksi Turun 12 Persen, Harga Beras Naik di Semua Level

"Meningkatnya permintaan kemudian diikuti kenaikan produksi, penyerapan tenaga kerja, aktivitas pembelian, hingga persediaan input," ujar Elang dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (1/10/2026).

Optimisme pelaku usaha juga masih terjaga untuk 12 bulan mendatang. Ekspektasi terhadap peningkatan permintaan, proyek baru, ekspansi bisnis, serta stabilitas harga bahan baku menjadi faktor yang menopang keyakinan tersebut.

Peluang dari pasar eksternal juga terbuka. Aktivitas manufaktur sejumlah mitra dagang Indonesia berada di zona ekspansi, seperti Thailand dengan PMI 54,3, China 52,1, dan Amerika Serikat 57,0.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi peningkatan permintaan terhadap produk Indonesia, sekaligus menopang keberlanjutan ekspansi sektor manufaktur.

Inflasi Masih Jadi Perhatian

Di tengah penguatan aktivitas ekonomi, tekanan harga masih perlu dicermati. Inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, terutama dipengaruhi inflasi kelompok harga bergejolak yang mencapai 5,03%.

Kenaikan tersebut terutama berasal dari harga daging ayam ras, berbagai jenis cabai, dan daging sapi. Tekanan pangan terjadi ketika dampak El Nino masih berlanjut dan permintaan daging ayam meningkat, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,25% secara tahunan. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah normalisasi tarif angkutan udara setelah periode low season.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.