Rupiah Ambruk 0,67 Persen, Begini Strategi BI Perkuat Mata Uang Garuda

AKURAT.CO Rupiah tertekan oleh harga minyak yang tembus USD108 dan kenaikan yield UST 10 tahun. BI memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan seiring meningkatnya risiko di pasar keuangan global.
Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal, di tengah kenaikan harga minyak dunia hingga menembus USD108 per barel.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz. Kondisi tersebut turut meningkatkan perhatian pasar terhadap prospek inflasi global.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot
"Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen, tertinggi sejak 2007," kata Erwin dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (29/9/2026).
Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan aset negara berkembang. Ketika imbal hasil aset AS meningkat, tekanan terhadap aliran dana portofolio di negara-negara emerging markets dapat ikut meningkat.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang berakhirnya kuartal III. BI mencatat adanya arus keluar dana dari portofolio aset emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi.
Meski demikian, BI memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik sekaligus menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental perekonomian.
"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," ujar Erwin.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan.
Menurut Erwin, efektivitas stabilisasi nilai tukar turut diperkuat melalui peningkatan insentif untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









