Akurat

Harga Minyak Naik, BI Siaga Jaga Inflasi dan Rupiah

Esha Tri Wahyuni | 3 Maret 2026, 11:30 WIB
Harga Minyak Naik, BI Siaga Jaga Inflasi dan Rupiah
BI awasi transmisi kenaikan minyak ke inflasi dan rupiah. IHK Februari 2026 tercatat 4,76% yoy, AP melonjak 12,66% akibat faktor energi.

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko inflasi domestik menyusul kenaikan harga minyak dunia di tengah eskalasi ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Lonjakan harga energi dinilai berpotensi menekan biaya transportasi, produksi, hingga harga pangan di dalam negeri.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menegaskan bank sentral saat ini memantau tiga jalur utama transmisi dampak global ke ekonomi domestik, yakni harga komoditas, pasar keuangan, dan perdagangan internasional.

Baca Juga: Setelah AS-Israel Hantam Sekolah Iran Tewaskan 108 Anak, Melania Trump 'Ceramah' Perlindungan Pendidikan Anak di PBB

“Sekarang kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan. Karena kalau harga minyaknya mengalami peningkatan, tentunya ada (dampak biaya) transportasi dan lain-lain,” kata Aida di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat 4,76% secara tahunan (year on year/yoy).

Angka ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya, salah satunya dipengaruhi faktor low base effect akibat diskon tarif listrik pada tahun lalu yang sempat mendorong deflasi.

Tekanan paling besar berasal dari kelompok harga diatur pemerintah (administered prices/AP) yang melonjak 12,66% yoy pada Februari 2026.

Sebagai perbandingan, pada Februari tahun sebelumnya kelompok ini masih mengalami deflasi minus 9,02%. Kenaikan tersebut mencerminkan sensitivitas inflasi terhadap kebijakan energi dan harga yang dikendalikan pemerintah.

Baca Juga: BPS: Inflasi Ramadhan 2026 Capai 0,68 persen, Lebih Rendah dari 2025

Selain jalur komoditas, BI juga mencermati stabilitas nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan yang berdampak pada harga barang impor dan ekspektasi inflasi.

“Komitmen BI tetap menjaga stabilitas. Dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi,” ujar Aida.

Dari sisi perdagangan global, BI mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi dunia yang dapat menekan permintaan ekspor Indonesia. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi sekaligus dinamika inflasi domestik melalui sisi permintaan.

Secara historis, kenaikan tajam harga minyak global kerap berdampak langsung pada inflasi Indonesia. Pada periode lonjakan harga komoditas 2022, inflasi domestik sempat menembus di atas target akibat penyesuaian harga energi. BI saat ini mempertahankan sasaran inflasi 2026 di kisaran 2,5% plus minus 1%.

Di tengah risiko global, BI menilai prospek ekonomi domestik masih terjaga. Setelah ekonomi tumbuh 5,11% pada 2025, pertumbuhan 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,9–5,7%. Momentum konsumsi pada kuartal I, didorong Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan percepatan belanja pemerintah, diharapkan menopang permintaan domestik.

“Kalau itu terjadi, tentunya konsumsi daripada swasta akan mengalami peningkatan dan tentunya ini mengakibatkan permintaan domestik mengalami peningkatan dan juga produksi-produksi lainnya,” kata Aida.

Dari sektor eksternal, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terkendali pada kisaran 0,1–0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 9,69% pada akhir 2025 dan meningkat menjadi 9,96% pada Januari 2026, dengan target pertumbuhan 2026 berada di kisaran 8–12%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.