BI: Surplus Dagang Januari Berlanjut, Nonmigas Dominan

AKURAT.CO Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Januari 2026 sebesar USD0,95 miliar, berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Surplus ini melanjutkan tren positif setelah Desember 2025 mencatat surplus lebih tinggi, yakni US2D,51 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan surplus tersebut menjadi sinyal positif bagi ketahanan sektor eksternal.
Baca Juga: BPS: Inflasi Ramadhan 2026 Capai 0,68 persen, Lebih Rendah dari 2025
“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini positif untuk terus menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” ujar Ramdan di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Secara rinci, surplus Januari 2026 terutama ditopang oleh kinerja neraca perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD3,23 miliar. Nilai ekspor nonmigas mencapai USD21,26 miliar.
Komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati serta produk manufaktur seperti nikel dan barang daripadanya, kendaraan dan bagiannya, mesin dan peralatan mekanis, serta alas kaki menjadi kontributor utama.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke China, Amerika Serikat, dan India masih menjadi penopang utama kinerja perdagangan Indonesia pada awal tahun ini.
Baca Juga: BPS: Pola Inflasi Ramadan Berulang, Pangan Jadi Pemicu
Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar USD2,27 miliar. Defisit tersebut terjadi sejalan dengan penurunan ekspor migas di tengah koreksi impor migas.
Surplus perdagangan yang berlanjut menunjukkan ketahanan struktur ekspor Indonesia, khususnya dari sektor nonmigas. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi komoditas berbasis hilirisasi seperti nikel menjadi penopang utama surplus, terutama sejak penguatan kebijakan hilirisasi mineral.
Surplus neraca perdagangan berperan langsung terhadap stabilitas transaksi berjalan dan cadangan devisa. Secara historis, surplus yang konsisten membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat persepsi risiko Indonesia di mata investor global.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Ramdan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










