Akurat

Inflasi Tinggi Awal 2026 Dipicu Efek Basis, BPS: April Normal Kembali

Andi Syafriadi | 3 Maret 2026, 07:50 WIB
Inflasi Tinggi Awal 2026 Dipicu Efek Basis, BPS: April Normal Kembali
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) kembali stabil mulai April 2026 setelah efek basis rendah (low base effect) berakhir.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan lonjakan inflasi yoy pada Januari dan Februari 2026 dipengaruhi rendahnya basis perbandingan tahun sebelumnya.

Data BPS mencatat inflasi Januari 2026 sebesar 3,55% yoy dan Februari 2026 sebesar 4,76% yoy.

Baca Juga: BPS: Normalisasi Tarif Listrik Angkat Inflasi ke 4,76 Persen

"Low base effect masih akan tetap mempengaruhi inflasi tahunan di Maret, namun dimungkinkan berakhir pada Maret juga, sehingga pada April 2026 nanti angka inflasinya relatif stabil kembali," ujar Ateng di Jakarta, Senin.

Lebih lanjut Ateng menjelaskan, pada Januari–Februari 2025 pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50% kepada pelanggan rumah tangga.

Kebijakan tersebut menekan Indeks Harga Konsumen (IHK) hingga terjadi deflasi pada periode itu.

Level IHK yang rendah pada awal 2025 menjadi titik pembanding perhitungan inflasi tahunan 2026.

Meskipun begitu, secara historis, efek basis kerap memengaruhi angka inflasi tahunan ketika terjadi kebijakan harga besar pada periode sebelumnya.

Diskon listrik 2025 membuat level harga berada di bawah tren normal.

Baca Juga: BPS Ramal Produksi Beras RI Februari-April 2026 Cuma 12,23 Juta Ton, Turun 4,02 Persen

Namun ketika insentif berakhir, perbandingan tahunan menghasilkan persentase inflasi yang terlihat tinggi meski kenaikan harga aktual relatif moderat.

BPS menegaskan dinamika harga saat ini masih sejalan dengan tren fundamental.

Bagi masyarakat, inflasi yoy yang tinggi dapat memengaruhi persepsi daya beli, meski tekanan harga aktual tidak melonjak tajam.

Bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan, normalisasi inflasi penting sebagai indikator stabilitas harga dan ruang kebijakan moneter.

Angka inflasi menjadi salah satu acuan utama dalam penentuan suku bunga dan kebijakan likuiditas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.