Dampak Sistemik Eskalasi di Selat Hormuz

AKURAT.CO Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Hormuz, Persia lazimnya berfokus pada logika pencegahan (deterrence) serta keseimbangan kekuatan regional. Padahal dilihat dari lensa teori hubungan internasional klasik, krisis di Teluk tak sekadar merupakan konfrontasi dua negara, melainkan sebuah tes tekanan terhadap sistem industri global secara keseluruhan.
Mengutip Juancole, Peneliti Kenneth Waltz berargumen bahwa konflik dapat dipahami melalui tiga “citra” atau level: individu, negara, dan sistem internasional. Ketika kerangka berpikir ini diterapkan pada dinamika AS–Iran saat ini, terlihat bahwa risiko terbesar bukan hanya karena kepribadian pemimpin atau rivalitas negara, melainkan karena kondisi struktur global yang saling terkait.
Di level individu, Donald Trump dikenal menggabungkan negosiasi transaksional dengan brinkmanship — yaitu dorongan untuk mendorong konflik sampai di ambang batas tanpa benar-benar memicu perang total. Dalam konteks ini, eskalasi bisa dipakai sebagai sinyal politik baik secara eksternal maupun domestik untuk menunjukkan ketegasan atau guna merombak posisi negosiasi.
Baca Juga: Selat Hormuz Terancam Ditutup, Bahlil Mau Temui Pertamina
Di level negara, rivalitas Washington dan Beijing sangat kental, dimana 83% ekspor minyak mentah Timur Tengah menuju 4 negara besar Asia: China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Tulang punggung ekonomi China bisa terpukul, karena isrupsi aliran energi dapat menaikkan biaya produksi di China, merumitkan output industri, dan menimbulkan ketidakpastian dalam supply chain.
Level Sistemik: Interdependensi Global
Namun pandangan di tahap sistemik sangat berbeda. Sistem internasional saat ini bukan hanya soal kekuatan yang bersaing, tapi juga tentang keterkaitan yang sangat rapat antar negara melalui jaringan industri dan pasar global. Titik-titik penting seperti Selat Hormuz tidak lagi hanya menciptakan krisis regional yang terbatas; mereka berpotensi menciptakan gelombang dampak global.
Selat Hormuz menangani sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia dan bagian besar ekspor LNG (gas alam cair), terutama dari Qatar. Menurut analisis Juni 2025 oleh Institute for Energy Economics and Financial Analysis, sekitar 10 persen impor LNG Eropa berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab dan melalui Hormuz. Sementara itu, sebagian besar ekspor LNG Qatar juga mengalir ke negara-negara Asia.
Jika Selat Hormuz menghadapi ketidakstabilan, negara-negara Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan dan India akan bersaing keras untuk mendapatkan pasokan alternatif. Karena pasar LNG bersifat global dan sangat peka harga, gejolak di Teluk akan memicu kenaikan harga energi secara cepat dan meluas ke pasar Eropa, yang kini sangat bergantung pada impor LNG untuk menjaga pasokan energi dan level penyimpanan.
Konsekuensi Sistemik yang Lebih Luas
Risiko sistemik dari eskalasi tidak hanya soal berapa banyak energi yang hilang secara langsung. Itu termasuk kontaminasi harga global: kenaikan premi asuransi kapal tanker, persepsi risiko pasar, dan lonjakan harga minyak dan gas akibat ketidakpastian. Hal ini kemudian akan berdampak pada industri di Jerman, sektor pengolahan di Italia, serta manufaktur Eropa Timur dan Asia — semuanya sangat sensitif terhadap volatilitas energi.
Dalam dunia yang sangat terhubung, tekanan yang tampak logis dalam strategi negara bisa justru menjadi bumerang secara strategis. Eropa, yang masih menghadapi efek lanjutan dari decoupling energi dengan Rusia, bisa menghadapi tekanan inflasi baru. Basis manufaktur Asia akan merasakan lonjakan biaya. Dan supply chain global akan semakin ketat.
Kerangka teoritis Waltz mengingatkan bahwa sementara para pemimpin bertindak dan negara bersaing, struktur sistemlah yang membatasi hasilnya. Pada tahun 2026, struktur tersebut ditandai oleh interdependensi industri dan kerentanan energi. Oleh karena itu, krisis di Selat Hormuz tidak hanya akan menguji deterrence antara AS dan Iran, tetapi juga ketahanan sistem industri global itu sendiri.
Dampak ke Ekonomi RI
Bagi Indonesia sendiri, setiap eskalasi geopolitik termasuk di Selat Hormuz akan berdampak ke kepercayaan pasar. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menilai dominasi Iran sebagai produsen crude oli terbesar global kedua setelah Venezuela sekaligus anggota OPEC masih besar. Saat eskalasi terjadi, sudah pasti harga crude oil terkerek dari yang saat ini di kisaran USD63 per barel misalnya, perlahan menuju USD70 per barel.
Saat harga crude oil naik, harga produk turunan dan barang2 konsumsi di negara-negara eksportir pun turut terkerek sehingga terjadi inflasi dan lazimnya berujung pada kericuhan bahkan kudeta. Hal ini menjadi perhatian dan keresahan investor.
"Investor akan ada ketakutan saat harga minyak naik karena akan ada inflasi. Barang-barang terutama di negara konsumen/ importir naik, terjadi demonstrasi bahkan bisa kudeta dan sebagainya itu yang ditakutkan pasar. Contoh pada saat perang AS-Iraq kan banyak negara termasuk Mesir terjadi kudeta. Tapi sepertinya belum akan terjadi dalam waktu dekat (harga crude oil melambung ke USD70 per barel) karena Irannya kan masih mau negosiasi," tutur Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










