Apa Itu Kemiskinan Struktural? Memahami Akar Masalah di Balik Ketimpangan

AKURAT.CO Kemiskinan sering kali dianggap hanya sebagai akibat dari rasa malas atau kurangnya usaha individu.
Namun, dalam ilmu sosiologi, terdapat kondisi di mana seseorang miskin bukan karena pilihannya, melainkan karena sistem yang tidak memungkinkannya untuk maju.
Kondisi inilah yang disebut dengan kemiskinan struktural.
Memahami konsep ini membantu kita melihat bahwa kemiskinan adalah masalah sistemik yang memerlukan solusi kebijakan, bukan sekadar motivasi individu.
Baca Juga: Di APEC 2025, Prabowo Beberkan Peran AI untuk Atasi Kemiskinan dan Capai Swasembada Pangan
Pengertian Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural adalah kondisi kemiskinan yang dialami oleh sekelompok orang karena struktur sosial masyarakatnya tidak dapat menggunakan sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.
Hal ini terjadi ketika tatanan hukum, kebijakan ekonomi, atau adat istiadat menghalangi akses masyarakat terhadap pendidikan, modal, dan teknologi.
Akibatnya, mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang berlangsung secara turun-temurun.
Baca Juga: Setahun Pemerintahan Prabowo, Ekonomi Tumbuh Stabil dan Kemiskinan Menurun
Faktor Penyebab Kemiskinan Struktural
Berbeda dengan kemiskinan kultural (karena gaya hidup), kemiskinan struktural dipicu oleh faktor-faktor luar yang memaksa seseorang tetap berada di bawah garis kemiskinan.
1. Ketimpangan Akses Pendidikan dan Kesehatan
Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil sering kali tidak mendapatkan fasilitas sekolah atau layanan kesehatan yang memadai.
Tanpa pendidikan yang baik, mereka tidak memiliki keterampilan untuk bersaing di pasar kerja modern.
2. Kebijakan Ekonomi yang Tidak Memihak Rakyat Kecil
Misalnya, pengalihan lahan pertanian menjadi kawasan industri tanpa memberikan pelatihan kerja bagi petani setempat.
Hal ini membuat masyarakat kehilangan mata pencaharian utama tanpa adanya jaminan pekerjaan baru.
Apa itu kemiskinan struktural menggambarkan sebuah jeratan kemiskinan yang diciptakan oleh ketidakadilan akses dalam masyarakat.
Untuk mengatasinya, diperlukan campur tangan pemerintah melalui kebijakan yang inklusif dan pemerataan fasilitas publik di seluruh lapisan masyarakat.
Nasywa Mutiara Pratista (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








