Krisis Fiskal dan Properti Bayangi Prospek Ekonomi China

AKURAT.CO Ekonomi China kembali menghadapi tekanan setelah data fiskal terbaru menunjukkan perlambatan belanja pemerintah dan melemahnya penerimaan negara. Kondisi ini diperparah oleh krisis sektor properti yang tak kunjung usai, menimbulkan risiko ganda terhadap prospek pertumbuhan jangka menengah.
Menurut Kementerian Keuangan dikutip dari laman reuters, pengeluaran pemerintah pada Agustus hanya meningkat 6%, menjadi CNY2,7 triliun. Pertumbuhan ini jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun, ketika Beijing meningkatkan stimulus fiskal untuk menopang ekonomi. Perlambatan pengeluaran juga bersamaan dengan melambatnya penerbitan obligasi pemerintah, yang selama ini menjadi instrumen utama pembiayaan.
Akibatnya, defisit anggaran hingga Agustus membengkak menjadi CNY6,7 triliun. Defisit yang melebar ini mencerminkan kesulitan pemerintah menjaga keseimbangan fiskal, terutama di tengah lemahnya pendapatan.
Baca Juga: Defisit RAPBN 2026 Melebar, Pemerintah Pastikan Tetap Jaga Kehati-hatian
Salah satu faktor krusial adalah krisis properti. Sektor ini, yang selama bertahun-tahun menjadi motor pertumbuhan, kini menjadi beban. Penjualan tanah sumber vital bagi pemerintah daerah menurun 4,7% menjadi hanya CNY1,9 triliun dalam delapan bulan pertama tahun ini. Penurunan ini membuat pemerintah daerah kehilangan sumber utama pendanaan untuk infrastruktur dan layanan publik.
Sementara itu, penerimaan pajak hanya naik tipis 0,02% menjadi CNY12,1 triliun. Pertumbuhan ekonomi yang melambat membatasi ruang pemungutan pajak, sementara konsumsi domestik dan pasar tenaga kerja belum menunjukkan perbaikan berarti.
Oleh karena itu, kombinasi lemahnya fiskal dan krisis properti bisa menjadi hambatan struktural bagi ekonomi China. Sebelumnya, pemerintah kerap mengandalkan belanja infrastruktur untuk meredam gejolak.
Namun kali ini, keengganan untuk menambah stimulus besar-besaran mencerminkan kekhawatiran atas beban utang yang terus meningkat.
Baca Juga: Perununan Harga Mulai Melandai, Krisis Properti di China Mereda
Menurut Goldman Sachs, pemerintah China kemungkinan akan lebih selektif dalam menyalurkan stimulus. Alih-alih ekspansi fiskal agresif, Beijing diperkirakan menempuh pelonggaran bertahap dan terarah, misalnya dengan mendukung proyek-proyek infrastruktur strategis dan memperbaiki pasar tenaga kerja.
Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada sektor properti. Selama sektor ini belum pulih, pendapatan dari penjualan tanah akan tetap rendah, membatasi ruang gerak pemerintah daerah. Dengan kontribusi sektor properti yang sangat besar terhadap perekonomian nasional, pemulihan penuh masih jauh dari harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo








