Akurat

Produksi Beras Nasional 2025 Diprediksi Naik, Capai 19,16 Juta Ton

Hefriday | 1 Agustus 2025, 13:45 WIB
Produksi Beras Nasional 2025 Diprediksi Naik, Capai 19,16 Juta Ton

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan adanya peningkatan signifikan dalam produksi beras nasional sepanjang tahun 2025. Berdasarkan rilis terbaru, produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada Juni 2025 diprediksi mencapai 2,28 juta ton.

Angka ini mengalami peningkatan sebesar 8,82% dibandingkan produksi pada Juni 2024 yang tercatat sebesar 2,10 juta ton.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (1/8/2025), menyampaikan bahwa secara akumulatif, angka sementara produksi beras sepanjang Januari hingga Juni 2025 diperkirakan mencapai 19,16 juta ton.

“Kenaikan ini menunjukkan peningkatan sebesar 13,53 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” jelas Pudji.

Baca Juga: Hitungan Kemiskinan Versi BPS dan Bank Dunia, Cek Standar Indonesia Sekarang!

Tak hanya untuk paruh pertama tahun ini, BPS juga mencatat potensi produksi beras yang menjanjikan pada kuartal ketiga 2025. Dari proyeksi yang dihimpun, produksi beras pada periode Juli hingga September 2025 diperkirakan mencapai 9,08 juta ton. Ini berarti terdapat peningkatan sekitar 11,17% atau 0,91 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pudji menegaskan bahwa meski angka yang disampaikan bersifat prediktif, perubahannya sangat mungkin terjadi, terutama jika terdapat dinamika pada luas panen dan produktivitas yang teramati langsung di lapangan. Oleh sebab itu, ia mengingatkan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti kondisi aktual.

Sementara itu, untuk produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG), Juni 2025 juga menunjukkan tren kenaikan. Produksi diperkirakan sebesar 3,96 juta ton GKG, atau naik 8,81% dibandingkan produksi pada Juni 2024 yang sebesar 3,64 juta ton. Kenaikan ini turut memberikan sinyal positif terhadap ketersediaan stok bahan pangan strategis nasional.

Lebih lanjut, sepanjang Januari hingga Juni 2025, produksi padi secara kumulatif diperkirakan mencapai 33,26 juta ton GKG. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 13,52% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan produktivitas yang cukup baik dari sektor pertanian, khususnya tanaman padi.

Potensi produksi padi sepanjang Juli hingga September 2025 juga menunjukkan pertumbuhan. BPS memprediksi produksi padi pada periode tersebut mencapai 15,76 juta ton GKG. Angka ini meningkat sebesar 11,21% atau 1,59 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 yang tercatat 14,17 juta ton GKG.

Data ini turut didukung oleh hasil amatan survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang dilakukan BPS pada Juni 2025. Survei ini mencatat bahwa sekitar 9,86% lahan pertanian untuk budidaya tanaman padi telah memasuki fase panen, meningkat dari angka 9,55% pada Juni 2024. Selain itu, sekitar 42,38% lahan pertanian berada dalam fase standing crop atau fase pertumbuhan aktif tanaman padi.

Baca Juga: Celios Desak Reformasi Data Kemiskinan, Kritik Metode BPS yang Sudah Usang

Dari sisi luas panen, Juni 2025 mencatat capaian sebesar 0,79 juta hektare. Jumlah tersebut meningkat 8,73% dibandingkan luas panen pada Juni tahun sebelumnya yang hanya sebesar 0,72 juta hektare. Secara total, luas panen padi dari Januari hingga Juni 2025 mencapai 6,26 juta hektare, meningkat signifikan sebesar 12,71% dari periode yang sama tahun 2024.

Untuk proyeksi ke depan, BPS memperkirakan potensi luas panen padi pada periode Juli hingga September 2025 mencapai 3,07 juta hektare. Ini merupakan kenaikan sebesar 11,33% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan luas panen ini menjadi faktor kunci dalam mendukung target ketahanan pangan nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi