Akurat

Singapura Hindari Resesi Meski Ancaman Perlambatan Masih Membayangi

Demi Ermansyah | 15 Juli 2025, 13:00 WIB
Singapura Hindari Resesi Meski Ancaman Perlambatan Masih Membayangi

AKURAT.CO Lonjakan ekonomi Singapura pada kuartal kedua 2025 dinilai belum cukup menghapus kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang membayangi paruh kedua tahun ini. Kendati berhasil menghindari resesi teknis, pemerintah dan ekonom tetap mewaspadai dampak jangka menengah dari kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang akan berlaku mulai 1 Agustus.

Menurut hasil data Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) dikutip dari laman bloomberg, menunjukkan PDB Singapura tumbuh 1,4% secara kuartalan, membalikkan kontraksi sebelumnya sebesar 0,5%.

Pertumbuhan tahunan juga mencapai 4,3%, didorong oleh peningkatan ekspor sektor manufaktur, jasa, dan konstruksi publik. Namun, para pengamat menilai bahwa akselerasi ini bersifat sementara.

Baca Juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 1,4 Persen, Antisipasi Tarif AS Jadi Kunci

Ekonom Bloomberg, Tamara Mast Henderson, menyatakan bahwa efek dari percepatan pengiriman menjelang tarif AS justru bisa menekan kinerja ekspor pada bulan-bulan mendatang.

“Permintaan dapat melemah setelah lonjakan pengiriman, sementara tekanan dari tarif baru semakin nyata,” katanya.

Ketergantungan tinggi, lanjutnya, terhadap perdagangan global membuat Singapura sangat rentan terhadap fluktuasi eksternal.

Meski hanya dikenakan tarif 10%, dibandingkan negara lain yang lebih tinggi, tekanan tetap besar mengingat volume ekspor Singapura relatif sangat tinggi terhadap ukuran ekonominya.

MTI sendiri mengakui bahwa risiko penurunan ekonomi masih besar. Ketidakpastian arah kebijakan tarif dari Washington, perlambatan ekspor regional, dan penurunan permintaan global menjadi faktor utama yang dapat menekan pertumbuhan di sisa tahun.

Baca Juga: Dukung Ekspor Listrik Singapura, Pertamina NRE Bakal Groundbreaking Panel Surya

Sementara Monetary Authority of Singapore (MAS) diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter saat ini, tekanan dari sisi fiskal dan ketenagakerjaan dapat meningkat bila permintaan global terus merosot.

Pemerintah pun telah menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini ke kisaran 0–2%. Ini merupakan penyesuaian dari realisasi 4,4% pada tahun sebelumnya, mencerminkan kehati-hatian yang tinggi di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.