Reindustrialisasi Jadi Strategi Utama Bappenas Lepas dari Middle Income Trap

AKURAT.CO Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan pentingnya langkah reindustrialisasi sebagai strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan melepaskan diri dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Dalam seminar nasional bertajuk Outlook Industrialisasi Indonesia yang digelar oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (5/7/2025), Rachmat menyebut reindustrialisasi sebagai game changer yang bisa membawa transformasi fundamental bagi perekonomian nasional.
"Kami di Bappenas menilai reindustrialisasi sebagai pengubah permainan yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pertumbuhan itu, kita ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah," ujar Rachmat.
Baca Juga: Bappenas Gandeng IBC Tarik Investasi Swasta
Dirinya menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak cukup hanya di kisaran 6–8%. Untuk menjawab tantangan pembangunan ke depan, pertumbuhan perlu didorong hingga mencapai dua digit. Hal ini hanya bisa tercapai jika sektor industri manufaktur kembali menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Saat ini, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah 19%. Rachmat menilai perlu ada upaya serius untuk mengembalikan kontribusi industri ke atas 20 persen, bahkan lebih tinggi dari sebelum krisis moneter 1998.
“Kalau kita ingin industri kita kuat, kontribusinya harus kembali di atas 20 persen. Bahkan lebih tinggi, agar bisa menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja yang berkualitas,” jelasnya.
Rachmat juga mengkritisi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang saat ini didominasi oleh tenaga kerja tidak terampil (unskilled labor) dan berpendidikan rendah. Menurutnya, hal ini berkontribusi terhadap penurunan kualitas pekerjaan dan rendahnya produktivitas nasional.
"Kita menyaksikan adanya pergeseran dari pekerjaan dengan pendapatan tinggi ke pendapatan rendah karena tenaga kerja kita masih belum cukup terdidik dan terampil," paparnya.
Baca Juga: SKK Migas Gandeng Bappenas Genjot Lifting Migas
Sebagai langkah konkret, Bappenas akan memasukkan agenda reindustrialisasi ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Rachmat meminta dukungan dan masukan dari kalangan insinyur melalui PII untuk menyusun strategi yang tepat.
Dirinya menekankan pentingnya membangun keunggulan berbasis potensi domestik atau comparative advantage yang dimiliki Indonesia, agar dalam jangka panjang dapat dikembangkan menjadi competitive advantage yang unggul secara global.
“Reindustrialisasi kita tidak boleh biasa-biasa saja. Kita butuh reindustrialisasi yang luar biasa, yang hebat, dan berbasis pada keunggulan komparatif yang kita miliki. Dengan masuknya para insinyur dan inovator, kita bisa unggul dalam kompetisi global,” tutup Rachmat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu









