The Fed Waspadai Kenaikan Inflasi, Pilih Strategi Wait and See Untuk Pemangkasan Suku Bunga

AKURAT.CO Federal Reserve kembali menegaskan sikap hati-hati dalam merumuskan kebijakan moneter, di tengah bayang-bayang ketidakpastian global akibat kebijakan tarif dan potensi kenaikan inflasi.
Sejumlah pejabat tinggi The Fed, termasuk John Williams, Raphael Bostic, Philip Jefferson, dan Neel Kashkari, menyuarakan perlunya pendekatan yang lebih konservatif sebelum memutuskan pemangkasan suku bunga.
Dalam beberapa pernyataan yang disampaikan dikutip dari laman New York Times, para pejabat sepakat bahwa meskipun inflasi menunjukkan tren penurunan dan penciptaan lapangan kerja menguat, risiko dari sisi tarif dan persepsi publik terhadap inflasi masih tinggi.
Baca Juga: Trump Kembali Tekan The Fed Segera Turunkan Suku Bunga
Gubernur The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan bahwa tarif membuat para pembuat kebijakan bingung dan belum siap untuk mengubah suku bunga dalam waktu dekat.
“Ada banyak ketidakpastian yang sedang kami coba atasi. Kami hanya perlu menunggu dan melihat sampai kami mendapatkan lebih banyak informasi,” ujarnya.
Ketidakpastian serupa juga disampaikan oleh Deputi Gubernur The Fed, Philip Jefferson dalam Konferensi Pasar Keuangan 2025 yang digelar di Atlanta. Jefferson menekankan pentingnya memastikan bahwa potensi kenaikan harga tidak berkembang menjadi inflasi yang berkelanjutan.
“Saya yakin sudah sepantasnya kita menunggu dan melihat bagaimana kebijakan berkembang dan dampaknya dari waktu ke waktu,” katanya.
Baca Juga: Waspadai Risiko Tarif Tinggi, The Fed: Inflasi Tak Kunjung Reda, Investasi Kian Terhambat
Gubernur The Fed Atlanta, Raphael Bostic bahkan menekankan bahwa ekspektasi publik terhadap inflasi saat ini cukup mengkhawatirkan.
“Saya sangat khawatir terhadap sisi inflasi, dan terutama karena kami melihat ekspektasi bergerak dengan cara yang merepotkan,” ujarnya dalam forum Bloomberg.
John Williams, Gubernur The Fed New York, menyebut bahwa ketidakpastian akibat kebijakan dagang tidak hanya membebani pengambilan keputusan bank sentral, tetapi juga perusahaan dan rumah tangga.
“Tarif dan kebijakan lain membuat sulit untuk memprediksi arah perekonomian. Kita perlu waktu untuk menilai semuanya,” ujarnya.
Pemerintahan Trump sendiri telah mencapai kesepakatan sementara dengan China, menurunkan tarif pada sejumlah produk impor, namun negosiasi dengan negara mitra lainnya masih terus berlangsung.
Kondisi ini semakin memperkuat alasan bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga dan memantau data-data ekonomi selanjutnya sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 6Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 7Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja






