Ajak Pemerintah Hemat Belanjakan Uang Negara, Celios Sebut 2025 Tahun YONO

AKURAT.CO Meski kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% untuk barang dan jasa umum dibatalkan (hanya berlaku bagi objek PPnBM), namun banyak pengusaha yang sudah terlanjur menaikkan harga berbagai produk, pun masyarakat yang terlanjur membayar tarif PPN 12%.
Selain itu, sejumlah biaya lainnya yang harus dikeluarkan pun telah menciptakan tantangan baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah. Dalam laporan terbarunya, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memproyeksikan bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun di mana masyarakat harus beradaptasi dengan mode hidup hemat, atau YONO (You Only Need One).
Menurut laporan CELIOS, YONO menggambarkan respons terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak peka terhadap daya beli masyarakat. Lantas, apa dampak PPN 12% barang mewah pada pengeluaran kelas menengah? Jangan salah. Meski sekilas kelihatannya tarif baru ini hanya untuk orang kaya, namun kelas menengah juga menanggung dampak karena sifat PPN yang regresif.
Baca Juga: Ini Penyebab Inflasi RI di 2024 Cuma 1,57 Persen, Terendah dalam Sejarah
Misalkan terkait insentif mobil hybrid yang mendapat PPnBM DTP 3% yang cenderung pro terhadap orang kaya (harga mobil hybrid berkisar Rp400 jutaan hingga Rp1,7 miliaran). Adanya DTP atau belanja pajak tersebut ujung-ujungnya juga bakal membebani masyarakat menengah karena insentif yang diberikan bersumber dari pajak yang dikumpulkan secara kolektif/ tanpa pandang bulu ke seluruh lapisan masyarakat. Padahal fasilitas nya hanya bisa dinikmati segelintir orang kaya saja.
Lebih lanjut, studi CELIO menunjukan kenaikan tarif PPN dari 11% menjadi 12% (jika jadi diterapkan ke barang dan jasa umum), akan berdampak signifikan pada daya beli masyarakat, dimana pengeluaran rumah tangga kelas menengah dapat meningkat hingga Rp354 ribu per bulan hanya karena penyesuaian tarif ini. Selain itu, inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga barang dan jasa dapat memperparah beban masyarakat.
Bertahan Hidup di Masa Sulit
CELIOS memperkenalkan YONO sebagai panduan hidup hemat di tengah tekanan ekonomi. Singkatan dari "You Only Need One," konsep ini mengajarkan masyarakat untuk fokus pada kebutuhan esensial dan menghindari pengeluaran berlebihan. "YONO bukan sekadar strategi bertahan, tetapi juga cara untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan," ujar CELIOS dalam risetnya, dikutip Jumat (3/1/2025).
Dalam konteks global, YONO sejalan dengan upaya mengatasi triple planetary crisis: perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Dengan mengurangi konsumsi, masyarakat tidak hanya menghemat pengeluaran tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan.
Gen Z, dari Staycation ke Stay Broke
Dampak kenaikan tarif PPN juga dirasakan oleh Generasi Z, kelompok usia muda yang baru memulai karier dan kehidupan mandiri. CELIOS mencatat bahwa tambahan pengeluaran sebesar Rp1,75 juta per tahun akibat kenaikan PPN dapat menjadi beban signifikan bagi generasi ini.
"Gen Z harus mulai merencanakan keuangan dengan lebih bijak," tulis CELIOS. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari seperti makanan, transportasi, dan hiburan perlu disesuaikan. Dalam jangka panjang, kenaikan ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk menabung atau berinvestasi, sehingga mengganggu rencana finansial jangka panjang seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun.
YONO: Navigasi untuk Pemerintah di 2025
Dalam menghadapi tantangan akibat PPN 12% ini, CELIOS menekankan pentingnya perencanaan keuangan yang matang. Masyarakat disarankan untuk memprioritaskan kebutuhan esensial, mengurangi pengeluaran yang tidak penting, dan mencari sumber pendapatan tambahan jika memungkinkan. Generasi muda, khususnya Gen Z, juga didorong untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka.
"Tahun 2025 adalah waktu untuk refleksi dan adaptasi. YONO bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang menciptakan perubahan positif bagi diri sendiri dan lingkungan," tukas CELIOS.
Tidak hanya masyarakat, CELIOS juga menyarankan pemerintah untuk menerapkan prinsip YONO dalam pengelolaan anggaran negara. Dengan menerapkan YONO, pemerintah dapat mengurangi pemborosan dan fokus pada prioritas yang benar-benar mendesak. "Buat apa membangun istana megah baru? Banyak program pemborosan yang bisa ditunda," tegas CELIOS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










