Aksi Jual Besar-besaran Investor AS Usai The Fed Pangkas Suku Bunga
Demi Ermansyah | 19 Desember 2024, 23:35 WIB

AKURAT.CO Federal Reserve (The Fed) kembali memangkas suku bunga sebesar 0,25% pada Rabu (18/12/2024) lalu, seperti yang telah diperkirakan pasar sebelumnya.
Namun, keputusan tersebur tidak mampu menenangkan investor, yang justru mengambil langkah drastis dengan menjual aset berisiko secara besar-besaran.
Aksi jual tersebut menyebabkan indeks S&P 500 anjlok 3%, menjadikannya hari terburuk untuk pasar saham sejak Maret 2020. Lebih dari itu, indeks Russell 2000, yang mencerminkan saham-saham berkapitalisasi kecil, turun hingga 4,4%. Hal ini menandakan bahwa ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed masih mendominasi sentimen pasar.
Menurut Kepala Strategi Investasi di Janney Montgomery Scott, Mark Luschini menyampaikan bahwa reaksi pasar saat ini sedikit berlebihan.
"Meski pasar sudah memperhitungkan pemotongan tersebut, akan tetapi bahasa yang digunakan dalam pengumuman tampaknya menciptakan kekhawatiran baru. Indikasi hanya akan ada satu pemangkasan tahun depan memperlihatkan risiko kebijakan yang lebih agresif," ucapnya melalui lansiran Bloomberg, Kamis (19/12/2024).
Lebih jauh, investor merespons negatif terhadap kenaikan imbal hasil obligasi AS, terutama pada tenor dua tahun dan 10 tahun. Lonjakan yield obligasi ini mencerminkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, yang menambah tekanan terhadap aset-aset berisiko.
Sementara itu, menurut Mitra Pengelola di Harris Financial Group, Jamie Cox investor memanfaatkan momen ini untuk merealisasikan keuntungan. "Saham, terutama teknologi, sudah mahal. Keputusan suku bunga ini menjadi katalisator untuk memulai aksi jual sebelum liburan,” ucapnya kembali.
Oleh karena itu, lanjutnya, Investor saat ini mengantisipasi inflasi yang lebih lama, valuasi saham yang tertekan, dan suku bunga yang belum akan turun signifikan. Ini adalah sinyal risiko besar untuk pasar.
Meskipun begitu, diharapkan kebijakan The Fed kedepannya dapat mampu membawa stabilitas imbal hasil yang mencerminkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









